Tiga Masjid Kuna Warisan Para Raja Sumenep

Mamira.ID – Masjid merupakan salah satu bagian integral dari kehidupan pesantren dan sebagai simbol keberadaan masyarakat yang agamis. Media ini sebagai tempat yang paling tepat untuk mendidik para santri terutama dalam mendirikan shalat lima waktu, mengaji Al. Qur’an, khutbah/ceramah dalam rangka dakwah islamiah serta pendalaman keislaman dan perkembangannya.

Masjid Laju

Pembangunan Masegit Laju dalam bahasa Madura atau Masjid Laju (Masjid Lama) merupakan tanda kepedulian raja Sumenep terhadap perkembangan agama Islam pada masa itu. Masjid sebagai pusat kebudayaan berperan penting sebagai wahana pendidikan Islam secara terbuka bagi masyarakat luas, selain sebagai tempat peribadatan kolektif menjadi ruang penyatu antara pemimpin dengan rakyatnya.

Masjid yang pertama kali dibangun oleh penguasa Sumenep itu dapat mengawali berkembangnya pendidikan non formal bagi masyarakat umumnya, khususnya penerapan dasar-dasar pengetahuan agama. Pada perkembangan berikutnya masjid merupakan bagian integral dari pendidikan pesantren.

Baca Juga:  Langka, Berikut Kisah Pernikahan Pembesar Madura dengan Wanita Eropa

Hal ini menandakan kepedulian penguasa akan meningkatnya pemeluk agama Islam yang membutuhkan tempat sholat berjamaah, sekaligus sebagai tempat belajar ilmu agama serta sarana tempat bermusyawarah dalam hal kepentingan agama dan kemasyarakatan.

Masegit laju itu merupakan sebutan bagi sebuah masjid yang tak kalah pentingnya dibandingkan dengan masjid jami’ Sumenep. Banyak orang yang tak begitu banyak tahu tentang masjid yang juga menyimpan segudang sejarah didalamnya, umumnya hanya tahu akan keberadaan masjid Jami’ Sumenep karena terletak di pusat jantung Kota Sumenep. Masegit laju Sumenep lokasinya berada di depan kantor rumah dinas Bupati Sumenep lebih tepatnya di sisi utara jalan raya. Masjid laju dibangun oleh Pangeran Anggadipa pada kisaran tahun 1640 M salah seorang penguasa Sumenep pada masa itu.

Masjid Laju Sumenep secara pereodisasi masih lebih tua umurnya dibandingkan dengan masjid Jami’ Sumenep karena bangunan tersebut dibangun sebelum pembangunan dua monumental peradaban penguasa Sumenep era dinasti terakhir yang menjadi masa keemasan pada peremintahan Sumenep dimasanya. Bangunan Masjid Laju Sumenep masih kental akan bangunan arsitektur jawa kuno dengan 4 tiang sebagai penyangga atap bangunan tersebut, tampak terdapat balok kayu melintang di atas tiang serta tiga buah mihrab yang masih tampak utuh dan asli.

Baca Juga:  Drama Dibalik Pernikahan Nyai Dewi Asri, Nenek Bindara Saot

Gaya bangunan Masjid Laju mirip dengan bangun khas jawa tempo awal dengan tiga buah pintu yang masih berdiri kokoh tanpa ada perubahan satupun, namun tampak lebih kecil ukurannya jika di banding Masjid Jami’ Sumenep. Pengaruh jawa tampak pada penggunaan atap yang di susun tumpang serta terdapat sebuah prasasti kuno di sisi mimbar masjid itu.

Selain itu juga tepat di sisi utara bangunan utama terdapat sebuah menara tempat mengumandangkan adzan serta sebuah bedhuk kuno masih tampak indah menghiasi teras masjid. Konon masjid ini juga menjadi masjid kraton Sumenep.

Pada saat ini, Masjid Laju sudah ada perluasan area pada sisi luar karena perkembangan zaman serta kebutuhan sarana ibadah yang lebih memadai. Gaya arsitek modern sudah tampak pada bangunan tambahan di sisi depan masjid utama, serta ornamentasi gaya modern tampak pada bangun luar terutama pada pintu gerbang masjid. Namun pada area utama masih tampak terjaga keasliannya meski sedikit banyak ada renovasi di berbagai sisi seperti lantai dan atap bangunan utama. Semoga masjid ini masih bisa bertahan keasliannya karena masih menyimpan paradaban sejarah islam pada pemerintahan panguasa Sumenep pada saat itu.

Baca Juga:  Hidup dari Manisnya Gula Merah