Kisah “Joko Piturun” yang Tenggelam di Kolam Keraton Mandilaras

MAMIRA.ID, Pamekasan – Bagaikan mata uang, sejarah memiliki dua sisi: yang sifatnya sebagai ilmu, dan sebagai seni. Sejarah sebagai seni meliputi di antara kisah-kisah folklore (tutur), babad, maupun legenda. Seperti kisah berikut ini tentang sebilah pusaka sakti di Pulau Madura yang bernama Joko Piturun.

Menurut kisah tutur turun-temurun, pusaka itu berjenis keris. Keris pusaka milik seorang raja terbesar di Pamekasan, yaitu Panembahan Ronggosukowati (memerintah pada 1530-1616 M).

Keris itu didapat sang Nata dengan cara yang tak biasa. Banyak cerita mistik seputar keris yang melegenda itu. Termasuk keampuhannya dalam peperangan, dan kisah yang diabadikan dalam beberapa folklore di Madura.

Hadiah dari Tiga Tamu Asing

Dalam buku ” Sedjarah Tjaranja Pemerintahan di Daerah-daerah di Kepulauan Madura dengan Hubungannja” karya Kangjeng Zainalfattah, kisah Keris Joko Piturun sangat masyhur. Keris itu disebut Si Joko Piturun atau Se Joko Piturun. Saking ampuhnya keris itu, bahkan dikenal juga dengan nama Kiai Joko Piturun.

Suatu waktu di masa awal duduknya Panembahan Ronggosukowati sebagai Raja di Pamekasan, datang seorang tamu yang mengaku dari suatu tempat. Tamu itu menghaturkan sebuah landiyan (pegangan, handle, atau gagang) keris kepada Panembahan. Setelah itu tamu tersebut mohon diri.

Dua Pangeran Jimat, dan Kisah Syuhada Pertama Pulau Garam
Pasarean Panembahan Ronggosukowati, Raja agung Pamekasan. (Foto/Mamira)

Keesokan harinya datang seorang lagi yang membawa warangka keris dan bahan-bahan tempat keris. Dan di hari terakhir datang lagi orang asing yang menghaturkan keris.

Baca Juga:  Kiai Daud:  Penerus Perjuangan Keilmuan Barangbang Generasi Ke-3

Sang Panembahan lantas memanggil ahli pandai keris dan menyuruhnya merangkai pemberian tiga orang asing itu. Dan anehnya, semua pemberian itu cocok dan tanpa harus merubahnya lagi menjadi kesatuan sebuah keris yang sangat indah. Panembahan lantas memberi nama Joko Piturun.

Bisa Menghidupkan Orang Mati

Dalam sebuah legenda Pamekasan, Keris Joko Piturun. Panembahan hanya mengarahkan ujung keris pada tahanan jahat itu, lantas tiba-tiba sang tahanan rebah ke tanah dan mati.

Setelah itu Panembahan menyarungkannya lagi dan kembali menghunus keris. Saat ujung diarahkan pada mayat tahanan itu, dengan ijin Sang Kuasa, tahanan itu bisa hidup lagi.

Kisah kehebatan keris itu pun terdengar seantero negeri, dan menambah kewibawaan Panembahan Ronggo yang dikenal sebagai raja yang arif dan bijaksana. Kisah itu juga menjadi sebab Pamekasan kala itu aman, dan tenteram. Tidak ada satu orang pun yang berani berbuat onar.

Apalagi Panembahan Ronggo dikenal dengan sifat ksatrianya, yang meliputi ketangkasan, keberanian, kesabaran, ketabahan, sopan dan adil. Beliau juga dikenal sebagai penguasa yang tidak suka memperluas wilayahnya dengan cara merebut. Sehingga beliau pun sering kali turun tangan ketika ada pihak yang mengganggu pihak lain.

Pernah suatu waktu, saat pasukan Bali menyerang Sumenep, dan menyebabkan gugurnya Pangeran Lor I, pasukan tersebut menuju Pamekasan. Mendengar itu, Panembahan Ronggosukowati langsung datang sendiri ke tepi kota yang sekarang menjadi Desa Jungcangcang. Di sana beliau hancur-leburkan pasukan Bali. Sehingga menurut kisah, tak satupun pasukan Bali yang luput dari maut. Nama Panembahan Ronggo semakin kesohor.

Baca Juga:  Jelajah Situs Adikoro Pamekasan, dan Mengenal Tokoh-tokohnya

Berselisih dengan Raja Madura Barat

Panembahan Ronggosukowati adalah putra Raden Adipati Pramono, penguasa Sampang. Adipati Pramono bersaudara dengan Kiai Pragalba alias Pangeran Arosbaya. Keduanya sama-sama anak Pangeran Demang Plakaran, Raja pertama Arosbaya (Keraton Anyar).

Pengganti Pragalba, yaitu Panembahan Lemah Duwur suatu waktu berkunjung ke Pamekasan, ke sepupunya, yaitu Panembahan Ronggo. Kedatangan tamu agung itu disambut baik oleh Panembahan Ronggo. Semua rombongan Arosbaya dijamu siang malam di Keraton Mandilaras.

Suatu hari Panembahan Lemah Duwur menginginkan menangkap ikan di rawa atau kolam ikan yang diberi nama Se Ko’ol, di area keraton. Sebuah rawa besar yang banyak ikannya. Lemah Duwur lantas menyuruh menteri-menterinya agar menangkap ikan. Para menteri lantas melepas busana, sehingga tinggal pakaian dalam, dan menangkap ikan ramai-ramai.

Kisah “Joko Piturun” yang Tenggelam di Kolam Keraton Mandilaras
Pasarean Panembahan Lemah Duwur (atas) di Komplek Pasarean Makam Agung Arosbaya Bangkalan). (Foto/Mamira)

Mendengar Lemah Duwur ada di Se Ko’ol, untuk membantu para tamu, Panembahan Ronggosukowati lantas mengutus menteri-menterinya ikut membantu. Para menteri langsung menceburkan diri ke rawa dengan pakaian lengkap karena saking taatnya pada Ronggosukowati.

Melihat itu, Panembahan Lemah Duwur tersinggung. Lalu mengajak para pengawal dan menterinya pulang ke Arosbaya tanpa pamit lebih dulu pada Panembahan Ronggo.

Tak berapa lama, kabar itu didengar Panembahan Ronggo. Beliau pun marah dan menyusul Lemah Duwur hingga ke Sampang dengan berjalan kaki. Sementara para prajurit di belakangnya membawa kuda. Namun kudanya hanya dituntun. Sesampainya di Sampang, Panembahan Ronggo bertemu adiknya, Adipati Sampang. Kepada sang adik diceritakan perihal Lemah Duwur.

Baca Juga:  Asal usul Kiai Adhimah Mangaran, dan Jejak-jejak Keluarga Katandur di Situbondo

Menurut keterangan sang adik, didapatlah kabar jika Lemah Duwur sudah sampai di Blega, dan sempat beristirahat di bawah pohon sambil bersandar. Pohonnya ditunjukkan kepada Ronggosukowati.

Lantas Panembahan Pamekasan itu menghunus keris Joko Piturun, dan menusukkan ke pohon yang disandari Lemah Duwur. Ronggosukowati lantas kembali ke Pamekasan.

Beberapa hari setelah itu, datanglah kabar ke Pamekasan berupa surat dari permaisuri Lemah Duwur. Bahwa di hari Ronggosukowati menusukkan keris Joko Piturun ke pohon di atas, Lemah Duwur bermimpi tertusuk keris tersebut. Keesokan harinya, bekas tusukan dalam mimpi itu menjadi sebuah bisul besar dan terasa hebat sakitnya. Setelah dua hari, Panembahan Lemah Duwur wafat.

Mendengar itu, Panembahan Ronggosukowati menyesal dan menuju kolam rawa Se Ko’ol dan melemparkan keris Joko Piturun ke dalam rawa. Selepas itu datanglah suara: “seandainya keris Joko Piturun tidak dibuang, sudah tentu Jawa dan Madura hanya selebar daun kelor”.

Panembahan terkejut dan menyuruh para prajurit mencari keris yang dilempar ke kolam itu. Namun setelah lama berusaha mencari, hasilnya nihil. Kejadian itu tercatat pada tahun 1592 Masehi.

Kolam Se Ko’ol saat ini juga sudah tidak ditemukan lagi bekasnya. Namun diperkirakan tidak jauh dari Keraton Mandilaras yang saat ini sudah menjadi Pendopo Agung Ronggosukowati milik Pemerintah Kabupaten Pamekasan.