Jum, 20 Mei 2022
spot_img

Misteri Nama Asli Kiai Agung Nepa, Waliyullah dari Kampung Raden

Mamira.ID – Konon, pada masa pemerintahan Keadipatian Sumenep kisaran abad ke-18 Masehi, hiduplah seorang waliyullah bernama Kiai Agung Nepa, ia berasal dari sebuah perkampungan kecil di Desa Tamedung. Menurut cerita tutur sesepuh kampung Togu, Kiai Agung Nepa masih keturunan Bindara Saod dengan Nyai Izzah dari putra pertamanya Kiai Bahauddin Kusumanegara yang masyhur dengan sebutan Raden Aria Pacinan.

Jadi, jika ditarik secara nasab, Kiai Agung Nepa masih erat kaitannya dengan Penguasa Sumenep kala itu, yakni Kangjeng Tumenggung Tirtanegara Bindara Saot, sang penguasa yang berasal dari kalangan ulama.

Semasa hidupnya, Kiai Agung Nepa terkenal sebagai ulama yang karismatik, berwibawa, berilmu tinggi, dan ahli tirakat. Bahkan beliau pernah bertapa atau tirakat ke daerah Pasuruan, Jawa Timur. Penamaan Agung Nepa merupakan nama laqab yang  diambil dari peristiwa di mana beliau pernah tirakat di atas ujung daun pohon nipah, orang Madura menyebutnya dengan pohon nepa, sejenis palem (palma) yang tumbuh di lingkungan hutan bakau atau daerah pasang-surut dekat tepi laut.

Hingga saat ini belum diketahui nama asli dari Kiai Agung Nepa itu sendiri, karena pada nisan pusara beliau patah dan hilang. Masih berdasarkan tutur cerita sesepuh Desa Tamedung, asta Kiai Agung Nepa lapuk termakan usia. Kijingnya terbuat dari batu putih bernisan batu karang.

“Nisannya terbuat dari sejenis batu karang (Madura: bato gunong) dan terbungkus dulu. Batu gunong itu lama kelamaan bisa pecah karena terpapar musim. Mungkin itu penyebab nisan asta beliau patah. Nah, patahannya itu hilang entah ke mana, makanya nama beliau masih misteri hingga saat ini,” terang Bindara Kholiq, salah satu keturunan ponakan Kiai Agung Nepa.

Kiai Agung Nepa menjalankan misi dakwahnya di sebuah perkampungan terpencil, tepatnya di Kampung Togu yang kemudian lebih dikenal dengan kampung Raden/Kiai. Beliau mengajarkan ilmu agama di sebuah musala kecil atau langgar yang sampai saat ini masih terjaga dan terawat. Langgar tersebut berbahan dasar kayu jati layaknya langgar kuna pada masa itu.

“Langgar Kiai Agung Nepa masih terawat hingga saat ini, meski memang sudah mengalami perbaikan sebab ada beberapa tiang yang termakan usia. Sementara atapnya sudah berubah total,” ujar Bindara Kholiq kepada tim Mamira.ID sambil melihat bangunan penuh sejarah tersebut.

Karomah Kiai Agung Nepa

Seperti dikatakan di awal, selain alim dan berilmu tinggi, Kiai Agung Nepa banyak menghabiskan masa hidupnya dengan bertirakat, maka tak heran jika nyaris segala ucapannya terkabul, orang Madura menyebutnya “mandí pangocap“. Konon, saat beliau datang dari perjalanan jauh dan kebetulan kedatangan para tamu yang ingin menemui beliau. Lalu kemudian sang kiai berkata kepada istrinya, “ Saya ingin ikan bandeng dan di luar juga sudah banyak tamu, tolong siapkan ya Den Ayu,” ucap Kiai Agung Nepa kepada sang istri.

Mendengar permintaan Kiai Agung Nepa, sang istri heran bercampur bingung, sebab di dapur tidak ada ikan bandeng. Maka sang istri pun bilang bahwa di dapur tidak ada ikan bandeng sebagaimana beliau inginkan untuk menjamu para tamu. Sejurus kemudian, Kiai Agung Nepa menaburkan tanah ke sawah yang berisi air, dengan kuasa Allah SWT sawah yang tadinya hanyalah kubangan air langsung berkeliaran ikan bandeng yang sangat banyak dan besar.

Tak berselang lama, sang istri memasak ikan bandeng tersebut untuk hidangan makan beliau dan para tamunya. Namun, Kiai Agung Nepa mengatakan agar tulang dari ikan tersebut dikumpulkan dan tidak dibuang begitu saja. Kemudian kumpulan tulang-tulang ikan tersebut dibuang lagi ke tempat semula ikan itu hidup, maka dengan kehendak Ilahi, tulang itu menjadi ikan lagi.

“Sawah itu berada tepat di sebelah selatan langar peninggalan beliau ini, sekarang sudah ditanami pohon pisang,” ujarnya seraya tersenyum. Klik halaman selanjutnya →

Berita Terkait

Stay Connected

2,021FansSuka
2,021PengikutMengikuti
2,021PengikutMengikuti
- Advertisement -spot_img

Terkini