Nyai Nurima: Ibunda Sang Nata, Leluhur Penguasa Keraton Sumenep Dinasti Terakhir

Mamira.ID – Sumenep merupakan salah satu kabupaten di ujung timur Pulau Madura yang kaya akan destinasi wisatanya, baik wisata alam, wisata bahari, maupun wisata religi. Salah satunya wisata religi yang terletak di ujung barat Kota Keris, yakni Asta Batuampar. Asta yang tidak pernah sepi dari peziarah ini terletak di Desa Batuampar, Kecamatan Guluk-Guluk. Asta ini merupakan leluhur para penguasa Sumenep dinasti terakhir yang pasareannya berada di Asta Tinggi, Sumenep.

Kompleks Asta Batuampar  merupakan pasarean keluarga besar Kiai Agung Abdullah alias Bindara Bungso bersama anak keturunannya. Di area asta ini juga terdapat pasarean salah satu istri dari Bindara Bungso, yakni Nyai Nurima.

Baca Juga:  Raden Abdul Rachim Pratalikrama: Putra Madura Perintis Kemerdekaan RI

Dalam Babab Sumenep, karya Raden Musa’ied Werdisastra, disebutkan bahwasanya Kiai Abdullah alias Bindara Bungso menikahi perempuan salihah berdarah Parongpong, Sumenep. Ia merupakan salah satu putri dari pasangan Kiai Khatib Bangil dengan Nyai Salama. Perempuan salihah itu bernama Nyai Nurima.

“Nyai Nurima adalah saudari kandung dari Nyai Galu Parongpong dan Kiai Faqih Lembung, Lenteng, Sumenep. Kiai Faqih merupakan paman sekaligus ayah angkat dari Kangjeng Tumenggung Tirtanegara Bindara Saot, Penguasa atau Raja Sumenep yang bertahta mulai tahun 1750-1762 Masehi,” terang R.B. Nurul Hidayat, salah satu pemerhati sejarah Sumenep.

Dalam catatan keluarga besar keraton Sumenep, Nyai Nurima tercatat sebagai ibunda Bindara Saot, Penguasa Sumenep yang masyhur menjadi raja sampai tujuh turunan. Beliau menikah dengan Kiai Abdullah Batuampar, dan memiliki keturunan, di antaranya adalah Bindara Saot, Nyai Dewi Hamilah alias Nyai Talaga, dan Nyai Kadungdung, Pamekasan.

Baca Juga:  Pelet Kandung: Upacara Tradisional Penyiraman Bagi Perempuan Hamil di Madura

Nyai Nurima dikenal sebagai  perempuan salihah dan ahlul ibadah. Saat Bindara Saot dalam kandungan, beliau selalu mendekatkan diri kepada Sang Khalik. Sampai suatu ketika, saat Nyai Nurima sedang melaksanakan salat, tiba-tiba datanglah sang suami sambil mengucapkan salam. “Assalamualaikum,” dawuh Kiai Abdullah di luar pintu. Lalu, bayi yang di dalam kandungan menjawab: “Wa’alaikumsalam, Ya Abi, umi masih salat”. Dari peristiwa itulah, bayi tersebut saat lahir diberi nama Bindara Saot, dari asal kata ‘nyaot’ atau menyahut.

“Setelah lanjut usia, Nyai Nurima wafat dan beliau dikebumikan di kompleks Asta Batuampar, Kecamatan Guluk-guluk, Sumenep. Asta beliau berada di samping Asta Kiai Agung Abdullah. Nisannya selalu terbungkus kain sebagai bentuk penghormatan serta kepedulian pada perempuan salihah berdarah Parongpong itu. Jiratnya menyerupai pasarean sang suami. Hanya saja, lebih rendah ukurannya,” pungkas Nurul Hidayat.

Baca Juga:  Loteng, Potret Miniatur Keraton dalam Keraton di Sumenep (1)

Tonton juga video Mamira.ID di youtube:

Mamira.ID