Rab, 25 Mei 2022
spot_img

Wabah Thaun dan Hukuman Raja Sumenep kepada Kiai Gurang Garing

Mamira.ID – Angin sepoi-sepoi menerpa dedaunan, melambai seolah menyambut sang fajar dari ufuk timur. Gemuruh ombak senantiasa setia menemani ranting-ranting pohon berdaun lebat nan hijau. Membuat kesejukan tersendiri di daerah yang bernama Desa Lombang. Hamparan pasir putih melintang dengan jejeran pohon-pohon cemara udang menambah pesona keindahan di desa ujung timur daya kabupaten yang berjuluk Kota Keris ini.

Di balik keindahan pantai serta panorama pohon cemara udang itu, ternyata desa ini menyimpan destinasi wisata religi yang sampai saat ini masih selalu ramai akan peziarah yang datang dari berbagai daerah di Sumenep sendiri, Madura, dan Jawa pada umumnya.

Pasarean Kiai Gurang Garing, begitulah orang banyak menyebutnya. Sebuah pusara kuna berjejer rapi di atas gundukan  tanah berpasir, menambah keagungan sang Wali dalam persemayamannya. Asta Gurang Garing lokasinya tidak jauh dari wisata yang sudah kesohor, yakni Pantai Lombang. Dari arah pintu masuk Pantai Lombang, kurang lebih 1 kilometer ke arah timur, tampak sebuah pintu gapura berdiri megah di sisi kiri jalan dengan dilengkapi sebuah petunjuk arah menuju Asta Pasarean Kiai Gurang Garing.

Kiai Gurang Garing yang memiliki nama asli Sayyid Mahfudz, merupakan sosok ulama yang awalnya berkedudukan di Kampung Lambi Cabbi, Desa Gapura Tengah, Kecamatan Gapura, Sumenep. Beliau adalah putra dari Kiai Agung Sayyid, atau yang dikenal dengan sebutan Kiai Tembing. Ibunya bernama Nyai Hawa, putri dari Kiai Ali Barangbang. Kiai Agung Sayyid bersama istrinya menetap di sebuah kampung yang bernama Kampung Tembing, Desa Banjar Barat, Kecamatan Gapura, Sumenep. Sehingga, sosok Agung Sayyid dikenal dengan sebutan Kiai Tembing.

Dikisahkan, bahwasanya Kiai Gurang Garing pada masa hidupnya banyak dimanfaatkan untuk kehidupan ukhrawi, yakni mendalami ilmu agama guna kepentingan dakwah penyebaran agama Islam, khususnya di daerah Gapura dan Sumenep secara luas. Jejak sang wali ini merupakan suatu wujud nyata dalam rangka melestarikan jejak-jejak leluhurnya tempo dulu.

Menurut beberapa catatan kuna Sumenep, Kiai Gurang Garing merupakan cucu dari Kiai Abdurahman Rombu, sosok wali agung yang juga menetap di kawasan Desa Gapura. Kiai Abdurrahman Rombu tak lain adalah cucu Pangeran Katandur, dari putranya yang bernama Kiai Khatib Paranggan.

Kiai Gurang Garing semasa hidupnya selalu disibukkan dengan kegiatan dakwah serta sebagai salah satu penggagas pesantren kuna di kawasan Desa Gapura. Pesantren Lambi Cabbi begitu melegenda di telinga masyarakat Gapura, wilayah Batang-batang, dan Sumenep umumnya. Sebuah pesantren klasikal yang masih tetap eksis sampai saat ini. Para santri kunanya telah banyak  melahirkan pesantren baru yang tak jauh bedanya dengan pesantren kuna Lambi Cabbi. Pesantren itu banyak menyebar di kawasan Gapura dan sebagian di kawasan Batang-batang.

Terjadinya Wabah Thaun

Atas keteguhan hati, kecintaan, dan kepedulian sang Kiai terhadap pesantren dan misi penyebaran agama Islam di bumi Sumenep, membuat sang Kiai hijrah sembari menyebarkan agama Islam di belahan timur daya Sumenep, khususnya di daerah Lombang, Kecamatan Batang-batang. Konon, di daerah ini merupakan bandar pelabuhan dan banyak kemaksiatan yang terjadi di kawasan ini.

“Dulu, kemaksiatan merajalela di kawasan pelabuhan pantai timur daya ini. Sampai-sampai pada saat sang wali menyebarkan agama Islam di sana, Tuhan memberikan peringatan berupa penyakit ganas mematikan. Orang Madura bilangnya ‘panyaket Ta’on atau Thaun’, wabah penyakit yang menyerang manusia dan mematikan. Wabah tersebut membuat orang mati tanpa sakit terlebih dahulu, atau tak berselang lama, orang yang terkena wabah tersebut akan meninggal. Sehingga banyak penduduk yang meninggal dunia. Makanya, banyak sekali pemakaman di daerah sana, mulai ujung timur Desa Lapa Laok hingga ujung barat Desa Lombang,” ujarnya.

Kiai Gurang Garing akhirnya menetap di desa yang terletak di sebelah timur daya Sumenep tersebut dalam menyelesaikan misi dakwahnya hingga akhir hayat. Bahkan, pasareannya pun juga terletak di daerah tersebut. Sang Kiai ini memiliki keturunan bernama Bindara Muhammad, yang dikenal dengan Bindara Sodagar atau Kiai Saudagar.  Dari Kiai Saudagar inilah, banyak menyebar para ulama di kawasan Gapura, Batang-batang, luar Madura, dan Jawa, yang sampai saat ini masih melanjutkan  misi leluhurnya yakni pengembangan agama Islam.

Hukuman Sang Raja kepada Kiai Gurang Garing

Klik halaman selanjutnya→

Berita Terkait

Stay Connected

2,021FansSuka
2,021PengikutMengikuti
2,021PengikutMengikuti
- Advertisement -spot_img

Terkini