Pangantan Jaran: Tradisi Unik Orang Madura Saat Pernikahan

Mamira.ID – Tradisi atau kebiasaan orang Madura terkadang aneh dan tak lazim. Bahkan, terkadang menjadi lucu jika kita perhatikan. Bagi orang-orang Madura, budaya sangatlah penting. Selain itu, terkadang disakralkan dan seolah-olah menjadi sebuah kewajiban dan anjuran agama.

Pangantan jaran merupakan istilah populer yang biasa disebut oleh orang Madura. Pangantan jaran itu artinya pengantin atau mempelai yang menunggangi kuda. Meski saat ini tak semua daerah di Madura menggelar tradisi unik tersebut, namun tradisi ini masih dilakukan oleh sebagian masyarakat Sumenep, khususnya warga Desa Legung, salah satu desa yang berjuluk Kampung Pasir yang terletak di Kecamatan Batang-batang. Tradisi ini merupakan bagian dari rentetan acara resepsi pernikahan serta menjadi salah satu kekayaan budaya Madura yang masih lestari, terutama di belahan timur daya Songenep.

Di balik ritual sakral pernikahan, masyarakat beranggapan bahwa acara pernikahan seakan tidak sah bila rentetan acaranya tidak semeriah yang mereka inginkan. Semisal, dalam hajatan tersebut dimeriahkan oleh hiburan karawitan ataupun arak-arakan seperti pangantan jaran. Namun, pada sisi yang lain, hal tersebut terkadang hanya lantaran gengsi mereka mengadakan kemeriahan tersebut.

Baca Juga:  1 Sura, Merawat Pusaka, dan Menjaga Budaya dari Masa ke Masa

Sebelum adanya Pangantan Jaran, orang Desa Legung lebih dulu mengenal Pangantan Tandhu, yang artinya kedua mempelai atau penganten yang ditandu atau digotong. Panganten Tandhu ini juga diarak mirip Pangantan Jaran.

“Pangantan jaran biasanya diarak dari rumah yang mengadakan hajatan pernikahan yang diawali dengan arak-arakan di bawah terop (tenda), kemudian bergerak keliling kampung. Pangantan Tandhu juga begitu dulu. Bahkan, terkadang diarak ke asta atau pasarean leluhurnya. Tradisi ini, sampai saat ini masih tetap lestari. Orang sini menyebutnya jaran kenca’. Dan biasanya diiringi musik saronen,” ujar Bapak Sahnawi Ema, salah satu modin sekaligus tokoh masyarakat Desa Legung Barat, Kecamatan Batang-batang.

Baca Juga:  Ajaib, Asta Bindara Bandungan Pindah Posisi karena Sejajar dengan Sang Ayah
Ket.Foto: Pangantan Jaran sedang diarak oleh sanak keluarga. (Mamira.ID)

Pagelaran tradisi ini menjadi  sangat menarik, karena kuda yang dinaiki oleh kedua mempelai bukan kuda biasa, tapi kuda yang sudah dilatih secara khusus. Biaya sewanya pun bisa jutaan rupiah. Kuda-kuda khusus tersebut biasa disebut dengan ‘jaran kenca’. Sang kuda pun bisa menari-nari mengikuti irama saronen.

Lenggak-lenggok kepala si kuda semakin menarik perhatian para tamu undangan dan pengunjung. Ditambah dengan iringan alunan musik saronen yang menambah suasana gembira di balik acara hajatan tersebut. Orang Madura menganggap hajatan tersebut sukses bilamana kemeriahan acara terlaksana dengan baik. Semuanya merasakan suka-cita setelah menyaksikan kedua mempelai yang tampak dengan paras anggun dan gagah perkasa saat menunggangi si kuda kenca’ tersebut.

Arak-arakan keliling kampung disambut gembira oleh masyarakat sekitar. Mereka berbondong-bondong melihat atraksi kuda tersebut. Semua kalangan tidak ada yang ketinggalan, baik tua atau pun muda, semuanya larut menyaksikan pagelaran pangantan jaran. Bahkan, mereka rela berpanas-panasan guna melihat si pengantin saat menunggangi jaran kenca’. Terlebih lagi, dengan adanya alunan musik saronen yang menambah kesan sakral dalam acara pernikahan tersebut.

Baca Juga:  Matinya Pengaruh PKI di Sumenep: Orang-orangnya Satu Persatu Diciduk dan Diikat

“Selain diarak keliling kampung, pangantan jaran biasanya juga diarak ke tempat makam para sesepuhnya (kakek, nenek, dan buyut) untuk meminta doa restu dari yang sudah meninggal. Konon, menurut kepercayaan masyarakat di sini, mereka yang sudah meninggal ikut menyaksikan  pertunjukan pangantan jaran tersebut. Hal itu diharapkan agar mereka ikut berbahagia melihat anak keturunannya. Orang Madura menyebutnya: Bangaseppo terro ngabase na poto ban kompoy keya se apangantan ban nompa’ jaran. Male noro’ bunga,” pungkas Pak Sahnawi.

Jangan lupa tonton juga video Mamira.ID di youtube:

Penulis: Abd. Warits

Editor: Mamira.ID