Kiai Abi Syuja’: Pemimpin Laskar Usir Penjajah dari Sumenep

Mamira.ID – Pada masa penjajahan, peran ulama dalam dunia pesantren bukan hanya dituntut untuk mengembangkan agama Islam dan mengajarkan kitab-kitab klasikal saja. Namun, ulama juga memiliki peranan penting dalam perjuangan Kemerdekaan Negara Republik Indonesia.

Di berbagai pesantren di seluruh Indonesia, lebih khususnya Jawa Timur, pesantren menjadi salah satu benteng perjuangan kelaskaran ,terutama Laskar Hizbullah dan Sabilillah. Laskar Hizbullah dan Sabilillah menjadi bukti historis yang tidak terbantahkan dalam membela Republik Indonesia. Ulama dan santri telah menjadi simbol perlawanan terhadap penjajah.

Seruan resolusi jihad oleh Hadratussyekh Kiai Haji Muhammad Hasyim Asy’ari menjadi sebuah pertanda bahwa pesantren dan ulama sangat berperan penting dalam perjuangan merebut dan mempertahankan Kemerdekaan Indonesia. Seluruh tokoh ulama pesantren, khususnya Jawa Timur, memiliki semangat kebangsaan dan spirit Islam yang tinggi untuk berjuang membela Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Tak ketinggalan para laskar di Madura juga ikut andil dalam perjuangan bersejarah ini. Kiai Haji Muhammad Abi Syuja’, salah satu ulama atau kiai yang menjadi pemimpin laskar di Sumenep. Beliau merupakan salah satu santri Kiai Haji Hasyim Asy’ari. Beliau juga berteman dekat dengan Kiai Ilyas, yang merupakan salah satu pengasuh Pesantren Annuqayah, Guluk Guluk, Sumenep, pada tahun 1917-1959.

Baca Juga:  Pangeran Letnan: Pemimpin Pasukan Perang Sumenep Melawan Belanda di Aceh

Kiai Abi Syuja’ mendirikan pondok pesantren yang terletak di Kampung Banasokon, Desa Kebunagung, Kecamatan Kota Sumenep. Pada tahun 1929, Kiai Abi Syuja’ menjadi ketua Tanfidziyah NU Sumenep. Sementara Kiai Ilyas menjadi Rais Syuriah NU Sumenep. Jadi tidak heran jika kemudian, di kalangan Nahdliyin beliau dikenal sebagai tokoh pendiri Nahdlatul Ulama (NU) di Kabupaten Sumenep.

“Sosok Kiai Haji Abi Syuja’ bukan hanya sebagai tokoh NU saja, akan tetapi beliau merupakan salah satu tokoh pejuang  pemimpin laskar yang memiliki peranan penting dalam perlawanan mengusir penjajah di Sumenep. Dahulu, pesantren Kiai Haji Abi Syuja’ dijadikan markas laskar. Pemuda dan para santri digembleng ilmu keprajuritan guna kepentingan perjuangan merebut dan mempertahankan Kemerdekaan Republik Indonesia,” ujar R. B. Jakfar Shadiq, salah satu pemerhati sejarah Sumenep.

Ket.Foto: Area komplek bekas pondok pesantren yang didirikan oleh Kiai Haji Abi Syuja’ (Mamira.ID)

Kiai Haji Abi Syuja’ merupakan kiai yang energik, muda, dan mempunyai keterampilan dalam mengorganisir. Beliau lahir di Sumenep pada tahun 1885 Masehi, dari pasangan Kiai Haji Jamaluddin dan Nyai Shalihah. Tidak ada catatan tertulis mengenai tanggal dan bulan kelahirannya. Bahkan, hari dan tanggal wafatnya pun sama, hanya sebuah angka tahun 1948 Masehi menunjukkan tahun wafatnya.

Baca Juga:  Mengenal Situs-situs Bersejarah di Pamekasan

Kakek Kiai Haji Abi Syuja’ bernama Kiai Haji Maghfur, putra dari Kiai Haji Muhammad Aqib, atau yang dikenal dengan Kiai Anjuk. Kiai Anjuk merupakan keturunan dari Kiai Abdul Allam Parajjan, Sampang, Madura.

“Leluhur Kiai Haji Abi Syuja’ adalah pendatang di negeri Sumenep dulu. Beliau hijrah dari Sampang guna kepentingan agama dan pengembangan dunia Islam. Makanya tidak heran jika pemakaman di area kompleks Asta Barat (Madura: Asta Bara’) banyak nisan yang bukan corak Sumenep tempo dulu , namun mengadopsi jirat dan nisan nuansa Madura barat.” Terang Jakfar.

Ket.Foto: Komplek asta Kiai Haji Abi Syuja’ yang terletak di Desa Kebonagung, Kecamatan Kota Sumenep, Madura. (Mamira.ID)

Kiai Haji Abi Syuja’tercacat pernah nyantri ke Martajasa, Bangkalan, yakni  Pesantren Syaikhona Muhammad Khalil Al-Bangkalani. Dan juga beliau pernah nyantri di Pesantren Kuna Loteng di Sarsore Sumenep, yakni rintisan Kiai Raden Bagus Moh. Hasan yang dikenal dengan sebutan Gus Hasan. Selepas masanya di pesantren, Kiai Haji Abi Syuja’ juga merintis sebuah pesantren di sebuah dataran tinggi, Asta Tinggi, tepatnya di Desa Kebunagung, Kecamatan Kota Sumenep.

Baca Juga:  Kiai Barungbung, Masjid Tertua dan Sumur Bertuah di Timur Daya Sumenep

Sebuah pesanten kuna masih tampak berdiri, dan kini jadi saksi bisu keberanian para santri atau laskar Sumenep dalam rangka mengusir para penjajah di bumi nusa garam ini. Di sinilah para santri mengobarkan semangat juang yang tinggi guna perjuangan jihad fi sabilillah. Sebagaimana seruan resolusi jihad yang diintruksikan oleh sosok pendiri NU, yakni Kiai Haji Hasyim Asy’ari.

“Lokasi pesantren beliau berada di sebuah dataran tinggi Kebunagung. Kondisinya yang jauh dari keramaian kota, serta berada di daerah hutan perbukitan Asta Tinggi sangat cocok dijadikan markas para laskar Sumenep. Sebab, sangat baik guna menyusun strategi perang untuk memperjuangkan kemerdekaan. Karena kawasan tersebut jauh dari pihak musuh atau markas penjajah,” pungkas Jakfar.

jangan lupa tonton juga video Mamira.ID di youtube:

Penulis: Abd Warits

Editor: Mamira.ID