Rab, 25 Mei 2022
spot_img

Benteng Kalimo’ok: Jejak Kejayaan VOC di Sumenep

Mamira.id – Bangunan tua dengan pintu gerbang yang masih utuh itu tampak menantang dan gagah dilihat, bangunan ini dikenal dengan Benteng Kalimo’ok. Benteng bersejarah yang dibangun VOC ini terletak di Desa Kalimo’ok, Kecamatan Kalianget, Kabupaten Sumenep.

Berawal dari perjanjian antara VOC dengan Pakubowono I Raja Mataram Tahun 1705 silam. Dalam perjanjian tersebut, dua wilayah bagian Madura timur diberikan kepada kuasa VOC. Meski dibawah kuasa VOC, perjanjian tersebut rupanya memberikan dampak yang cukup besar bagi Sumenep di kemudian hari. Para Bupati dari dua wilayah ini diwajibkan untuk senantiasa mengadakan kontrak-kontrak dalam kurun waktu tertentu.

Kontrak atau perjanjian yang dibuat cukup beragam, mulai dari penyediaan bahan pokok hingga menyediakan ribuan orang untuk kepentingan pertanahan VOC. Jadi tak mengherankan juga jika kemudian hari, pada tahun setelahnya, VOC memerintahkan untuk membangun sebuah benteng di Sumenep.

Pada awalnya, Kalianget merupakan cikal bakal kota modern yang berada Kabupaten Sumenep. Di kota tua inilah pertama kali dijadikan sebagai tempat perdagangan, alasannya cukup sederhana, dikarenakan letaknya yang sangat strategis. Makanya VOC memilih tempat yang merupakan bandar pelabuhan yang lumayan maju di Madura bagian timur ini. Pelabuhan ini diberi nama Kertasada, pelabuhan tertua yang berada di Sumenep.

Benteng yang berada di Desa Kalimo’ok, dibangun di atas tanah yang cukup tinggi dan memungkinkan untuk melihat kondisi pesisir dan muara Sungai Marengan dari jarak yang cukup jauh. Sebuah sungai yang cukup ramai pada masanya, karena merupakan jalur keluar masuk menuju pusat kota. Bahkan tempo dulu, di sungai Marengan Laok terdapat jembatan rantai, guna untuk transportasi bagi para pedagang dari berbagai penjuru nusantara.

Ketika Sumenep jatuh ke tangan VOC pada tahun 1705, VOC mulai membangun sebuah benteng yang terletak di Kalianget Barat, namun dikarenakan posisinya yang kurang strategis dan berbatasan langsung dengan laut selat Madura, benteng tersebut urung dibangun, oleh masyarakat sekitar daerah tersebut dikenal dengan nama “Loji Kanthang” yang saat ini nama tersebut dijadikan sebagai nama sebuah kampung Loji Kanthang.

Lokasi Benteng yang strategis ini memang di gadang-gadang sebagai tempat terbaik karena memiliki tempat yang paling strategis meskipun pada akhirnya keyakinan ini dipatahkan oleh kejadian berdarah pada tahun 1811, dimana pada saat itu serdadu Inggris berhasil mengambil alih bangunan tempat para serdadu Belanda berlindung diri.

Robert Van Hoevel seorang menteri yang juga politikus di Hindia Belanda yang pernah melakukan kunjungannya ke Sumenep tahun 1846 menggambarkan secara sekilas suasana lingkungan benteng ini. Dalam catatannya yang berjudul Reis Over Java, Madoera en Bali dituliskan bahwa benteng ini mulanya nyaris dibangun dipinggir pantai, hanya saja rencana pembangunan tersebut gagal dan pada akhirnya dipilihlah sebuah lokasi yang cukup jauh dari pesisir dan juga permukiman masyarakat saat itu.

Kongsi dagang tersebut tak kehilangan akal, akhirnya pihak VOC pun membangun Benteng di daerah Kalimo’ok dikarenakan lokasinya yang cenderung tinggi dari lingkungan sekitar. Benteng tersebut dibangun pada tahun 1785. Seiring dengan dibangunnya daerah pertahanan tersebut, pemukiman-pemukiman orang Eropa mulai menyebar di daerah Marengan dan Pabean, hal tersebut bisa kita lihat pada model arsitektur bangunan yang cenderung terpengaruh kebudayaan indisch. Kebudayaan indischs sendiri berkembang pada abad 17-18.

Dari sebutan nama Kota Tua oleh generasi saat ini tak dipungkiri bangunan yang berada sangatlah Kuna. Bahkan ketika mengunjunginya mata akan terpana dengan kegagahan dan gerbang yang berada di barat dan Utara Benteng Kalimook tersebut yang terletak sekitar 7 km disebelah tenggara ibu kota Sumenep atau sekitar dua ratus meter sebelah utara muara Sungai Marengan.

Berita Terkait

Stay Connected

2,021FansSuka
2,021PengikutMengikuti
2,021PengikutMengikuti
- Advertisement -spot_img

Terkini