Mengenal Tradisi Tellasan Topa’ di Madura

Mamira.ID – Suasana lebaran idul fitri masih sangat terasa, lalu lintas silaturrahmi masih saja ramai meski sudah sepekan, sementara di tempat yang lain ibu-ibu sedang sibuk di dapur masing-masing. Mereka menyiapkan ketupat untuk menyambut “Tellasan Topa’”. Di Madura memang merayakan dua lebaran dalam seminggu, bisa dibilang ini merupakan “lebaran” pasca lebaran.

“Tellasan Topa’” merupakan istilah yang lumrah bagi kalangan warga Madura, istilah tersebut jika diterjemah kedalam Bahasa Indonesia berarti “Lebaran Ketupat”. Lebaran merupakan nama lain dari hari raya, sehingga jika ditilik secara harfiah arti dari lebaran ketupat memang tidak pas. Namun begitulah orang Madura menyebutnya. Bahasa Salah Kaprah tersebut tetap dipahami oleh orang yang mendengarnya, khususnya orang Madura.

Tellasan Topa’ biasanya dirayakan oleh warga Madura pada hari ketujuh bulan Syawal atau seminggu setelah hari Raya Idul Fitri, maka tidak heran jika kemudian muncul istilah lain yakni, “Tellasan Petto’” yang berarti lebaran hari ketujuh. Lagi-lagi istilah tersebut terdengar unik atau bahkan aneh. Tapi itulah orang Madura yang tak mau ambil pusing soal istilah.

Tradisi ini merupakan tradisi lama yang hingga kini belum jelas bagaimana sejarah awal atau siapa penggagasnya. Namun Tellasan Topa’ tetap dirayakan oleh semua warga Madura.

Baca Juga:  Raden Abdul Rachim Pratalikrama: Putra Madura Perintis Kemerdekaan RI

“Saya juga tidak tau bagaimana cerita awal atau sejarahnya kok ada istilah tellasan topa’ ini, tapi yang jelas ini merupakan tradisi yang perlu dilestarikan karena mengandung banyak manfaat. Selain masih dalam suasana Idul Fitri, orang-orang kembali saling berbagi kepada sesama. Orang-orang kembali “Ter-ater” (berbagi/mengantar) rejeki berupa ketupat atau makanan lainnya,” kata K. Tuffahah, salah satu sesepuh Dusun Pangelen, Desa Prenduan.

Selain tetap berbagi rejeki kepada sanak famili dan tetangga terdekat, tellasan topa’ juga masih dijadikan moment saling memaafkan atau kegiatan bersilaturrahmi.

“Di Madura itu silaturrahminya tidak cukup dua atau tiga hari, tapi harus seminggu saking banyaknya family dan tetangga. Jadi yang belum sempat bersilaturrahmi ke sanak saudara dituntaskan pada hari tellasan topa’ ini. Semuanya di samperin kalau orang Madura, beda dengan di kota-kota ya, mungkin,” tambahnya.

Ada pula yang mengatakan jika perayaan lebaran pada hari ketujuh ini sebenarnya merupakan tradisi yang dimaksudkan merupakan ungkapan rasa syukur yang begitu dalam dari umat Islam yang telah menjalankan ibadah puasa sunnah enam hari setelah Idul Fitri.

“Bisa dibilang tellasan topa’ ini merupakan lebaran orang “Nyabel” atau orang yang berpuasa sunnah di bulan Syawal tahun Hijriah,” kata K. Tuffahah seraya menyeruput kopi hitamnya sesaat kemudian.

Baca Juga:  Kiai Ali: Maha Guru dari Tanah Barangbang (Bagian I)

Hingga kini, perayaan Tellasan Topa’ tetap dilestarikan. Para ibu-ibu biasanya sudah sibuk mempersiapkan ketupat sejak sore hari sehari sebelumnya. Namun ada pergeseran dalam membuat orong ketupat, jika dulu para ibu-ibu membuat orong ketupat sendiri, saat ini sebagian besar sudah membeli orong ketupat di pasar-pasar. Menjadi berkah bagi para penjual orong ketupat di pasar, tapi disisi yang lain anak-anak muda Madura sekarang pasti banyak yang tidak bisa membuat orong ketupat.

“Kalau dulu bikin sendiri itu orong ketupat, kalau sekarang sudah beli jadinya, enak ga usah ruwet ambil janur dan gak sibuk-sibuk Ngangghi’ atau menganyam daun janur. Umumnya ada dua macam orong ketupat yang dibikin, lumrahnya ketupat dari daun janur, namun ada juga yang membuat dari daun pohon siwalan, orang Madura menyebutnya Topa’ Rakara,” kata K. Tuffahah.

Ketupat-ketupat tersebut biasanya dimasak dengan berbagai macam-macam varian menu. Yang begitu lumrah ketupat disajikan dengan opor ayam, soto, campor. Adapula yang disajikan secara sederhana, yakni dengan serundeng dan telur rebus saja. Serundeng ala Madura, yaitu kelapa tua yang dibakar kemudian diparut dan ditaburi sedikit garam, serundeng ini dikenal dengan istilah “Sekkol Tonoh” yang berarti serundeng dari kelapa yang dibakar.

Baca Juga:  Situs Kiai Wiradipura, Serpihan Sejarah Tersembunyi di Area Luar Asta Tinggi

Banyak ragam cara orang-orang Madura dalam merayakan Tellasan Topa’, selain saling mengantar makanan khas yaitu ketupat, lumrahnya Tellasan Topa’ diisi dengan kegiatan seperti mengunjungi objek wisata. Jadi tidak heran jika objek-objek wisata, termasuk wisata religi yang ada di Madura akan diserbu oleh pengunjung.

Bahkan adapula yang membawa ketupat dengan berbagai menu tersebut ke tempat-tempat wisata yang mereka kunjungi.

“Kalau sekarang sudah macam-macam orang merayakan Tellasan Topa’, kalau dulu cuma dirayakan bersama keluarga di rumah atau berdoa bersama di musholla-musholla dengan keluarga dan tetangga terdekat, kalau sekarang sudah beda, mengunjungi tempat-tempat wisata, terutama para muda-mudinya,” ucap K. Tuffah sambil menikmati ketupat dengan sekkol tonoh dan telur rebus.

Meski mengalami pergeseran dalam perayaannya, semoga Tellasan Topa’ tetap dijadikan bentuk rasa syukur yang mendalam kepada Allah SWT atas nikmat yang telah diberikan kepada ummat manusia.

“Ya semoga saja tellasan topa’ ini tetap lestari dan dijadikan sebagai bentuk syukur, meski pada kenyataannya saat ini sudah banyak mengalami perubahan,” tutup K. Tuffahah.

Jangan lupa juga tonton video ini:

Mamira.ID