Jelajah Situs Adikoro Pamekasan, dan Mengenal Tokoh-tokohnya

Nah, sepeninggal Yudanegara pada sepertiga terakhir abad 17 Masehi, terjadi konflik memanas di kalangan keluarga keraton. Pasalnya Yudanegara tidak memiliki anak laki-laki. Beliau memiliki empat orang putri yang masing-masing telah menikah dengan para pangeran dari Pamekasan dan Sampang. Gatutkoco Pamekasan merupakan salah satu di antara empat menantu Yudanegara.

Perang Trunajaya usai, dan Yudanegara yang wafat membuat Madura Timur dan Sumenep kembali diintervensi Mataram. Gatutkoco pun selanjutnya ditunjuk sebagai adipati Pamekasan untuk meredam konflik keluarga. Sementara di Sumenep ditunjuk Pangeran Wirosari dan Pangeran Pulang Jiwa sebagai penguasanya. Kedua pangeran yang disebut terakhir itu juga merupakan menantu Yudanegara.

Pasarean Raden Wugan alias Pangeran Macan Wulung alias Yudanegara, Raja Sumenep di desa Kebunagung, Kecamatan Kota, Kabupaten Sumenep. (Foto/Ririp)

Kembali pada Pamekasan, setelah Gatutkoco menduduki kursi adipati, beliau kemudian bergelar Pangeran Ario Adikoro I. Penunjukan ini memang efektif dan tanpa berefek kontra. Pasalnya, beliau memang keturunan laki-laki dari Panembahan Ronggosukowati seperti yang disebut di atas.

Baca Juga:  Kiai Muban: Keturunan Sunan Cendana yang Hijrah ke Ambunten

Dalam riwayat tutur Pamekasan, Gatutkoco atau Adikoro I merupakan penguasa yang bijaksana. Namanya dianggap sebagai penguasa terbesar kedua Gerbang Salam setelah kakeknya, Panembahan Ronggosukowati. Dalam catatan genealogi penguasa-penguasa Madura, sekaligus catatan sejarah di pulau garam, Gatutkoco merupakan ayah dan leluhur dari adipati-adipati Pamekasan sekaligus Sumenep hingga pertengahan abad 18. Dua anak laki-lakinya, yaitu Pangeran Rama dan Raden Asral masing-masing berkuasa di Sumenep sejak awal-awal tahun 1700-an hingga wafatnya.

Pangeran Rama menjadi adipati Sumenep dengan gelar Cakranegara II. Sedangkan Raden Asral menjadi adipati Pamekasan dengan gelar Raden Tumenggung Ario Adikoro II.

Sepeninggal Pangeran Gatutkoco, konflik antar keluarga penguasa di Pamekasan pun mewarnai perjalanan pemerintahan di sana. Apalagi setelah melalui perjanjian yang tidak mengutungkan antara penguasa Mataram, yaitu Pakubuwono I dengan VOC pada tahun 1705 Msehi. Yang puncaknya Madura Timur akhirnya diserahkan pada VOC.

Baca Juga:  Ingin Tahu Alasan Ke’ Lesap Berambisi Taklukkan Madura? Klik di Sini

Pergantian para penguasa Pamekasan pun tak lepas dari intrik-intrik yang dimainkan VOC. Seperti peristiwa menjatuhkan Adikoro II dari kursi adipati pada tahun 1737 Masehi. Penggantinya justru cucu Pangeran Rama di Sumenep, yaitu Raden Baskara yang bergelar Adikoro III. Sementara Adikoro II akhirnya memilih menyingkir ke Surabaya, tepatnya Ampel, hingga wafat dan dimakamkan di sana.

Setelah Adikoro III wafat pada 1743 Masehi, diangkatlah Raden Ismail sebagai adipati Pamekasan bergelar Raden Tumenggung Ario Adikoro IV. Adikoro IV ini adalah anak Adikoro II yang tidak ikut ke Ampel.

Pasarean Adikoro I, III, dan IV di Asta Kolpajung. (Foto/Ririp)

Di waktu pemerintahan Adikoro IV ini, muncullah peristiwa yang dikenal dalam legenda pulau garam. Yaitu peristiwa pemberontakan Ke’ Lesap. Peristiwa yang dikabarkan terjadi pada 1749 itu, menggambarkan kisah heroik Adikoro IV dan pasukan perang Pamekasan, dalam pertempuran melawan gerombolan yang dipimpin Ke’ Lesap.

Baca Juga:  Makam Joko Tarub dan Rimbun ‘Bambu Cinta’ di Pamekasan

Peristiwa perang yang konon terjadi Bulangan, salah satu nama desa di Pamekasan itu, merenggut nyawa Adikoro IV dan beberapa pembesar keraton Pamekasan.

Saat ini, di situs Adikoro, terdapat makam Adikoro I, III, dan IV. Selain itu, juga dimakamkan di sana para keturunan raja-raja Pamekasan tersebut. Dalam pantauan Mamira, situs ini sekarang sudah banyak mengalami perubahan. Seperti kijing makam yang dikeramik, dan nisan makam yang dari modelnya diperkirakan pernah diganti pada abad 19 Masehi.

Red