Asta Tinggi Bagian IV: Megahnya Cungkup Panembahan Sumolo

Mamira.id – Asta Tinggi merupakan komplek pemakaman para raja dan keluarganya yang terletak di dataran tinggi sebelah barat Kota Sumenep, tepatnya di Desa Kebunagung, Kecamatan Kota, Kabupaten Sumenep.

Tidak hanya dikatakan sebagai komplek pemakaman, namun juga dikenal sebagai wisata religi yang tak pernah sepi dari peziarah. Pengunjung yang datang tak hanya dari pulau Madura saja, namun juga dari penjuru nusantara bahkan manca negara.

Seperti yang sudah dijelaskan pada tulisan tentang cungkup asta sebelumnya, Asta tinggi terbagi menjadi dua area komplek, yang pertama komplek yang berada di bagian barat dan komplek di bagian timur. Komplek bagian barat terdapat tiga cungkup makam yang ketiganya sudah diulas sebelumnya. Untuk area timur terdapat Cungkup lebih dikenal dengan sebutan Panembahan Sumolo dan keluarganya serta keturunannya. Dan tulisan kali ini akan membahas secara detail area bagian timur.

Untuk menuju ke area cungkup ini, peziarah harus melewati gerbang utama yang disertai dengan undakan agak tinggi. Pintu gerbang pertama tentu merupakan pintu gerbang depan atau pintu utama Asta Tinggi. Dari sini saja peziarah akan langsung melihat kemegahan dan keunikan komplek pemakaman ini, setelah melewati pintu gerbang utama, mata peziarah akan kembali dimanjakan pada beragam corak arsitektur yang menakjubkan ketika sudah memasuki area dalam komplek makam yang disebut dengan area profan satu. Dalam area ini terdapat beberapa pohon Sawo Kecik yang rindang dan menyejukkan.

Baca Juga:  Berburu Pentol Khas Ambunten yang Unik dan Nikmat

Sebelum melewati gerbang utama cungkup, peziarah akan melihat sebuah penginapan bagi para peziarah yang datang dari luar pulau Madura atau ingin menginap di Asta Tinggi. Penginapan ini berada di kanan jalan menuju cungkup. Sementara disamping kiri terdapat pendopo, tempat ini merupakan tempat menerima dan mendata jumlah para peziarah.

Gapura yang megah tampak menantang dengan ketebalan satu meter tersebut ditopang delapan pilar besar dan tinggi menjulang dengan warna putih melapisi sebagian besar gapura, namun warna khas keraton hijau dan kuning juga mewarnai tembok tersebut. Warna hijau dan kuning pasti selalu dijumpai di keraton yang berada di kota Sumenep, warna tersebut memiliki arti Konenglijk yang artinya kantor raja atau kadipaten.

Baca Juga:  Menjajal Lezatnya Sate Lalat, Kuliner Khas Pamekasan

Gaya bangunan yang terdapat pada gapura dipengaruhi oleh arsitektur Cina. Gapura tersebut tersambung dengan pagar yang mengelilingi seluruh area pemakaman dengan disertai berbagai ornamentasi makam yang berada di dalam area pagar.

Pada gapura agung cungkup Panembahan Sumolo ini terdapat pula prasasti di kiri dan kanan menggunakan tulisan arab dan carakan. Gapura yang megah ini dilengkapi dengan medallion di bagian paling atas gapura. Saking megahnya, gapura ini memiliki medallion sebanyak tiga belas buah.

Berikut isi dari prasasti yang terdapat di pintu gerbang agung cungkup Panembahan Sumolo:

“Prasasti ini mengingatkan kepadaku tentang pembangunan itu siapa yang meneruskannya dan menjelaskan pula harapan dari orang yang menyelesaikannya serta harapan dari orang yang menjaga kelestariannya. Maka bagi segenap peziarah yang datang berziarah kepada penghuni Asta tinggi ini tetapi ia lupa kepada siapa-siapa saja yang ada didalamnya maka hendaklah ia terlebih dahulu melihat pada tulisan prasasti ini kemudian kalau ia memahami bahasa Arab hendaklah merenungkan maknanya sehingga ia akan mengenal siapa yang membangun dan menyelesaikannya dan akan mengetahui apa harapan dari orang yang membangun dan menyelesaikannya.”

“Kalau tidak paham bahasa Arab maka hendaklah memandang ke arah kiri, disini ada prasasti bahasa Jawa barangkali ia lebih mengerti maksudnya. Didalam tulisan ini semoga Allah memberi ampun kepada pembuat prasastinya penulisnya, dan seluruh pembantunya serta memberi petunjuk bagi mereka kejalan yang lurus.”

“Yang membangun pintu ini adalah Almu’tasim Billah Sultan Paku Nata Ningrat Penguasa kota Sumenep yang meninggal sebelum pintu ini selesai kemudian penyelesaian pembangunan pintu ini dilanjutkan oleh putranya Panembahan Noto Kusuma tiga salah seorang pemangku kekuasaan atau raja di kota ini.”

“Penyelesaian pembangunan pintu dengan memperbagus pintu undakannya dan tindakannya dari menuliskan pada kedua sisinya.”

“Harapan setiap peziarah agar tetap tenang dari seluruh peziarah supaya rapi berpakaian   dari pada segenap pendoa untuk memohon ampun bagi mereka kepada Allah.”

“Bunyi harapan demikian: kepada seluruh peziarah kuburan hendaklah bersikap sopan santun menurut aturan syariat seperti sikap kepatuhan penghuninya dimasa hidupnya pintu ini rampung pada Tahun 1274 H.”