Rab, 25 Mei 2022
spot_img

Jelajah Situs Adikoro Pamekasan, dan Mengenal Tokoh-tokohnya

Kolpajung merupakan lokasi paling penting dalam mengukir memori sejarah Pamekasan. Di sana ada situs pemakaman Raja-raja Pamekasan mulai dari Panembahan Ronggosukowati.

Kolpajung dewasa ini menjadi nama kelurahan yang masih masuk wilayah kecamatan Kota Pamekasan. Situs Ronggosukowati saat ini masih terpelihara. Dalam sebuah area tersendiri.

Nah, masih di kawasan Kolpajung, di sana juga terdapas situs Adikoro. Yaitu kompleks pemakaman raja-raja Pamekasan yang bergelar Adikoro.

Mamira.ID – Sejarah keemasan Pamekasan (sebelumnya bernama Pamelengan) tidak bisa lepas dari sosok Panembahan Ronggosukowati. Pembuka kerajaan Islam pertama di Gerbang Salam ini, yang sebelumnya bernama Raden Aria Sena, adalah putra Pangeran Nugroho alias Bonorogo (Wonorogo). Dalam catatan lain Bonorogo adalah nama lain dari Adipati Pramono.

Panembahan Ronggosukowati (memerintah sejak 1530-1616 M). Panembahan merupakan gelar bagi penguasa keraton Islam. Ronggosukowati kemudian memindahkan keratonnya yang semula di daerah Lawangan Daya ke Mandilaras (sekarang masuk kelurahan Gladak Anyar).

Pasarean Panembahan Ronggosukowati, Raja Pamekasan, di Asta Kolpajung. (Foto/Ririp)

Di masa ini nama Pamekasan diambil untuk menggantikan nama Pamelengan. Diambil dari pesan Mekkas Jhatna Paksa Jhenneng Dhibi’. Pesan ini mengandung harapan agar siapapun yang ingin memerintah Pamekasan haruslah bersikap transparan, mandiri, dan memberikan kesejahteraan bagi rakyatnya.

Pada saat Ronggosukowati memerintah, Pamekasan sudah dinilai mandiri dan mempunyai syarat sebagai sebuah pemerintahan negara. Beberapa pembangunan digalakkan. Antara lain, pasar untuk mendukung perekonomian, penjara yang lebih manusiawi, dan mendirikan masjid dengan nama Maseghit Rato, yang sekarang menjadi masjid asy-Syuhada’.

Peristiwa Puputan

Setelah Panembahan Ronggosukowati memerintah selama 86 tahun, maka Pangeran Jimat (putra dengan Nyai Ratu Inten, selaku isteri padmi) yang naik takhta. Namun karena waktu itu Pangeran Jimat masih di bawah umur, diangkatlah Pangeran Purboyo ( putra dari ampian/selir) sebagai wali raja.

Beberapa lama di masa itu, Pamekasan terlibat dalam perang puputan, perang habis-habisan, karena semua isi keraton ikut berperang melawan melawan invasi kerajaan Mataram ke Madura pada tahun 1624 M. Panembahan Ronggo, Pangeran Purboyo, Pangeran Jimat, permasuri, selir dan semua anggota kerajaan gugur.

Satu-satunya keluarga yang selamat adalah Raden Dakseno alias Pangeran Gatutkoco, putra Pangeran Purboyo hasil pernikahan dengan gadis Plakpak.

Pamekasan Pasca Invasi

Peristiwa invasi Mataram atas Madura pada tahun 1624 Masehi tersebut, pada tahap selanjutnya menjadi babak baru dalam ketatasisteman pemerintahan kerajaan-kerajaan merdeka di pulau garam.

Di Pamekasan, setelah Panembahan Ronggosukowati dan para putranya gugur dalam perang “puputan” itu, ditunjuklah beberapa adipati yang secara hirarki kekuasaan berada di bawah bayang-bayang Mataram.

Beberapa penguasa yang terkenal di bumi Gerbang Salam itu telah mewarnai perjalanan kota yang kini dikenal dengan ikon arek lancornya tersebut. Seperti tokoh-tokoh yang dikenal dengan gelar Adikoro, yang makamnya terletak tak jauh dari komplek pasarean Panembahan Ronggosukowati, di kawasan dekat pasar tradisional Kelurahan Kolpajung, Kecamatan Kota, Kabupaten Pamekasan.

Saat ini, komplek makam para penerus Panembahan Ronggo tersebut dikenal dengan kawasan Situs Adikoro.

Tokoh yang mula-mula bergelar Adikoro ini ialah Pangeran Gatutkaca. Dalam catatan genealogi dan sejarah Pamekasan, Pangeran Gatutkaca ini adalah anak Pangeran Purbaya. Sedangkan Pangeran Purbaya adalah putra Panembahan Ronggosukowati yang juga ikut gugur dalam perang Pamekasan versus Mataram. Seperti disebut di muka, Gatutkoco yang bernama kecil Raden Daksena itu, satu-satunya orang yang selamat dalam perang yang merenggut nyawa seluruh keluarga Panembahan Ronggosukowati.

Papan nama Situs Adikoro, di Asta Kolpajung. (Foto/Ririp)

Dalam catatan sejarah, Gatutkoco ditunjuk sebagai penguasa Pamekasan untuk meredam konflik di wilayah Madura Timur. Perlu diketahui, Madura Timur yaitu Sumenep, pada masa pemberontakan Pangeran Trunojoyo dapat melepaskan diri dari hegemoni Mataram. Adalah Raden Wugan atau Pangeran Macan Wulung, putra pewaris tahta Sumenep yang ikut menjadi yatim pada peristiwa invasi Mataram, bersekutu dengan Trunojoyo untuk merebut kembali tahta Sumenep.

Macan Wulung selanjutnya berhasil melanggengkan kekuasaannya atas Madura Timur sekaligus Pamekasan, dengan bergelar Yudanegara.

Berita Terkait

Stay Connected

2,021FansSuka
2,021PengikutMengikuti
2,021PengikutMengikuti
- Advertisement -spot_img

Terkini