Sape Taccek: Pajangan Sapi ‘Cantik’ Madura Bernilai Jutaan Rupiah  

Mamira.ID – Madura merupakan kawasan yang sebagian besar mata pencaharian masyarakatnya bertani. Para petani tersebut hampir bisa dipastikan memiliki hewan ternak, yakni memelihara sapi. Sapi memang tidak lepas dari soal pertanian sebagai pembajak sawah. Meski saat ini penggunaan nanggala sudah jarang digunakan lagi, mereka sudah lebih akrab dengan pembajak sawah bernama traktor.

Meski demikian, sapi tetaplah menjadi hewan peliharaan wajib bagi sebagian besar petani Madura. Mereka menyebut sapi sebagai kekayaan yang diagungkan dan sangat mudah untuk dijual guna memenuhi kebutuhan hidupnya ataupun hanya sebagai harta jaga-jaga. Tembang pesse ekabelli tanah, bango’ ekabelli emas otabana sape. Sabab kaduwana gempang ejuwal bila bai se buto, (Ketimbang uang buat beli tanah, mending buat beli emas atau sapi. Sebab keduanya mudah dijual kapan saja saat dibutuhkan), begitulah ungkapan petani Madura.

Ada banyak jenis sapi yang dipelihara orang Madura, khususnya sapi betina. Sapi betina yang dipelihara masyarakat Madura memang memiliki nilai-nilai budaya dan ekonomi tersendiri. Orang Madura mengklasifikasikan sapi betina dalam tiga tipe. Pertama, sapi sayur atau daging (Madura: sape gangan) tipe sapi ini juga digunakan untuk membajak sawah. Maka tak heran jika kemudian sapi ini terkadang disebut juga sebagai sape pananggala. Harganya hanya mencapai belasan juta rupiah.

Baca Juga:  Makna Budaya Nyabis Bagi Orang Madura

Kedua, sapi pajangan (Madura baca: taccek), tipe sapi betina ini cara pemeliharaannya nyaris sama dengan sapi sono’, dan ada perkumpulan khusus untuk jenis sapi ini, harganya bisa mencapai belasan hingga puluhan juta rupiah. Tergantung dari umur, ukuran dan kecantikan sapi. Ketiga, sapi sono’ atau sapi kontes. Ini sapi betina yang sangat istimewa, baik dari cara pemeliharaan hingga harganya. Merupakan sapi paling mahal di antara harga kedua sapi di atas. Harga sapi sono’ bisa mencapai puluhan juta hingga ratusan juta rupiah, tergantung umur, ukuran dan keelokan sapi.

Ket.Foto: Sapi Taccek bernama Banjir Surya milik H. Muhaimin Kecamatan Guluk-guluk, Sumenep. sapi taccek tersebut sudah pernah dikonteskan, harganya pun mencapai puluhan juta dalam sepasang. (Mamira.ID)

Budaya sapi taccek merupakan salah satu warisan budaya leluhur masyarakat Madura dalam rangka memelihara dan merawat ternak peliharaannya. Sapi biasanya dipajang (Madura: epanggung) di depan rumah atau di lapangan khusus saat dalam  perkumpulan  paguyuban sapi Madura.

Baca Juga:  Peristiwa Ajaib di Balik Bertobatnya Kiai Ceddir, Cucu Kiai Khatib Paranggan

“Kebudayaan sapi taccek ini merupakan bagian dari budaya Madura. Saat dipajang, sapi ini melewati beberapa tahapan awal, diseleksi berdasarkan  umur, ukuran tubuh, dan fenotipnya yang nantinya akan dijadikan sebagai cikal bakal indukan (Madura: Pajenten) sapi-sapi yang yang indah dan cantik serta bernilai ekonomi tinggi yang kita kenal dengan sapi sono’ (sapi kontes),” ujar H. Muhaimin, salah satu pecinta sapi pajangan di Guluk-guluk, Sumenep.

Ket.Foto: Sape taccek sedang dijemur saat pagi hari. (Mamira.ID)

Setiap pagi dan sore, sapi taccek biasanya dipajang di depan kandang atau halaman rumah agar terkena sinar matahari langsung. Tujuan   pemajangan   sapi adalah untuk  melatih  sapi  berdiri tegap dan melatih kesehatan fisiknya. Kemudian memandikan sapi, memberi racikan jamu atau ramuan agar sapi tetap sehat dan pertumbuhan serta bulunya bagus.

Karena biasa dijemur saat pagi dan sore, itulah kemudian sapi ini diistilahkan dengan sape taccek. Taccek itu sendiri berarti tancap. Demikian pula saat dipajang (Madura: Pajangan), sapi-sapi tersebut dijejer dalam barisan memanjang ke samping, kemudian diikat pada bambu atau kayu setinggi 1,5 sampai 2 meter yang ditancapkan atau ditanam ke dalam tanah dengan kedalaman 40 cm. Masingmasing berjarak 90 cm. Ada pula yang lebih dari 1 meter. Pada ujung bambu atau kayu bagian atas dihubungkan satu sama lain dengan menggunakan bilahan bambu serta diberi hiasan pernak-pernik yang ditempelkan hingga menutupi bambu tersebut.

Baca Juga:  Lesap, Pemuda di Antara Sejarah dan Legenda (Bagian 2)

Sapi betina dipajang (Madura: ecangcang, ekencang atau epanggung) berjejer, berbaris rapi dengan muka sapi tegak serta kaki depan dinaikkan ke atas balok kayu setebal 10 x 12 cm. Posisi kaki depan lebih tinggi dari pada kaki belakang. Sehingga, sapi terlihat seolah-olah mendongakkan kepalanya

“Selain diikat pada tonggak kayu atau bambu, sapi pajangan alias taccek terkadang ada pula yang menggunakan pipa besi dan pipa karet, karena lebih kuat. Yang memakai pipa besi, biasanya sudah dijadikan lapangan khusus untuk sapi taccek atau sapi sono’. Biasanya, saat pemajangan sapi sambil diiringi alunan musik saronen atau karawitan berupa bunyi gending-gending Madura,” pungkas H. Muhaimin.

Jangan lupa tonton juga video Mamira.ID di youtube:

Penulis: Abd Warits

Editor: Mamira.ID