Rab, 25 Mei 2022
spot_img

Sapi Sono’: Si Cantik dari Madura yang Bernilai Ratusan Juta Rupiah

Mamira.ID – Bagi masyarakat Madura, sapi merupakan salah satu harta yang sangat diistimewakan. Selain itu, hewan yang tergolong herbivora ini menjadi sebuah simbol kebesaran, terutama dalam ranah kebudayaan Madura. Sebut saja sapi sonok (Madura baca: sono’).

Sape sono’ merupakan sebuah istilah. Sape yang berarti sapi, sedangkan sono’ adalah singkatan dari sokona nongko’ yang berarti kakinya berpijak. Dalam kontes sapi sono’, sepasang sapi betina berjalan di lintasan sepanjang 15 hingga 20 meter, dan tidak boleh menyentuh garis pembatas pada kiri dan kanan. Di ujung lintasan, kedua kaki depan sepasang sapi tersebut berpijak pada pijakan berupa balok kayu.

Sapi sono’ berbeda dengan sapi yang diadu kecepatannya (Madura: Sape Kerrap). Perbedaan keduanya, tentu terletak pada jenis kelamin. Sapi sono’ berjenis kelamin betina, sementara sapi kerrap berkelamin jantan. Selain itu, perbedaan perawatan dan biaya perawatannya juga berbeda. Namun, harga jual keduanya bisa mencapai puluhan juta, bahkan hingga ratusan juta rupiah.

Pada tulisan kali ini, Mamira.ID akan fokus pada sapi sono’, sapi betina yang diadu keanggunan dan kecantikannya. Tidak semua orang bisa memelihara jenis sapi ini, karena selain harganya yang melangit, cara perawatannya juga berbeda dengan sapi-sapi lainnya. Hanya sapi taccek yang perawatannya hampir sama, karena sape taccek merupakan salah satu cikal bakal atau indukan sapi sonok.

Ket.Foto: dua pasang sapi sono’ sedang di pajang, Madura: epanggung. (mamira.ID)

Sapi sono’ atau orang kuna Madura menyebutnya dengan Sape Lontrengan, merupakan sapi lokal pilihan dari bibit sapi yang berkualitas unggul dengan nilai harga yang sangat fantastis. Sapi tersebut dikenal dengan bibit sapi peddhat. Sapi ini dipilih oleh para pecinta kontes sapi sono’ karena beberapa alasan : Pertama, karena paras wajahnya yang cantik dan manis. Kedua, karena bulunya yang bagus nan klimis. Ketiga, karena postur tubuhnya yang ideal dan proporsional. Orang Madura menyebutnya ‘bhadanna aduhai ban abangkong jaran’.

Saat dikonteskan, sapi sono’ tampil mengenakan pakaian khusus dan diberi ornamen-ornamen berwarna-warni serta indah gemerlap. Umumnya berwarna emas. Sepasang sapi betina diikat pada sebilah kayu melengkung yang disebut dengan Pangonong. Badan sapi juga diberi hiasan warna merah dan emas. Bahkan, kepalanya juga dipasangkan mahkota agar sapi terlihat cantik dan mempesona. Selain itu, tanduk sapi juga dipasang pembungkus berwarna putih perak (Madura: Slop Tandhu’) dengan sebuah hiasan kalung bernuansa lonceng kecil menambah keanggunan sapi sono’ tersebut.

“Sapi sono’ yang diikutkan kontes harus dipilih yang benar-benar bagus. Sebab, akan menentukan langkah keberhasilannya dalam event bergengsi tersebut. Sepasang sapi itu perlu perawatan khusus. Jamu tradisional dan suplemen khusus, pola makan, termasuk kecantikan bulunya. Kebersihan kandang dan sapi harus benar-benar dijaga. Bahkan, ada yang diberi alas karpet. Tentu, selain itu, sapi harus sering-sering dilatih. Setiap sore biasanya sapi dipajang atau epanggung dan juga harus sering dielus-elus guna melatih mental dan menjadi penurut pada sang pemilik sapi,” ujar Mas Muhlas Arisandy, salah satu pemilik sapi sono’ bernama Mama Gisel dari Desa Jambu, Kecamatan Lenteng, Sumenep.

Ket.Foto: Sapi sono’ milik Bapak Muhlas Arisandi, Kecamatan Lenteng, Sumenep baru selesai mengikuti kontes. (Mamira.ID)

Sebelum sapi masuk arena kontes, sepasang sapi biasanya diarak mengelingi lapangan terlebih dahulu dengan diiringi alunan musik saronen. Lenggak-lenggok para penari senantiasa mengiringi sepasang sapi. Serta alunan musik gamelan yang disediakan oleh panitia akan menambah kemeriahan kontes sapi sono’ tersebut . Arak-arakan bertujuan guna mengenalkan kondisi lapangan kepada sang sapi yang cantik jelita, serta merupakan bagian dari awal tahapan dimulainya kontes yang sudah mendunia ini.

Alunan musik saronen dan gamelan memecah suasana. Para pemilik sapi pun bersukaria mengarak sepasang sapi yang menjadi kebanggaan mereka. Tak hanya itu, terkadang para pemilik sapi membawa penari perempuan yang dikenal dengan Sinden Sape Sono’. Hal ini bertujuan guna memeriahkan dan menghibur ribuan pasang mata saat kontes berlangsung.

Kemeriahan semakin terlihat saat kontes dimulai. Saat sapi sono’ berjalan di lintasan, sapi-sapi tersebut diiringi musik gamelan sekaligus tarian para sinden, bahkan sang pengendali sapi juga ikut menari. Lenggak-lenggok dan keserasian mengikuti irama, serta keindahan dan langkah kaki sapi yang serempak menambah nilai estetika budaya Madura.

“Di garis akhir sepasang sapi akan masuk ke sebuah gapura dari kayu berukir dan memijakkan kakinya pada balok kayu yang disebut dengan gapura finis, dan di sinilah, penentuan nilai dari para juri kepada sepasang sapi yang tengah dilombakan. Semoga budaya ini akan tetap lestari dan menjadi ikon kebanggaan Madura. Madura yang jaya dan berbudaya,” Pungkas Muhlas.

Jangan lupa tonton juga video Mamira.ID di youtube:

Penulis: Abd Warits

Editor: Mamira.ID

Berita Terkait

Stay Connected

2,021FansSuka
2,021PengikutMengikuti
2,021PengikutMengikuti
- Advertisement -spot_img

Terkini