Raden Saleh: Patih Berintelektual Tinggi Keraton Sumenep dari Semarang

Mamira.ID Jika pada bagian sebelumnya telah mengulas tentang Kangjeng Kiai Suroadimenggolo V, salah satu tokoh penting sekaligus Adipati dari tanah Semarang yang kemudian menetap di Songenep. Kali ini, tim Mamira.ID akan bergeser ke pasarean Raden Saleh, alias Patih Pringgalaya, Sumenep.

Ada yang tahu, gak? Siapa Patih Pringgalaya tersebut dan peranannya pada masa keraton Sumenep. Yuk, kita ikuti liputannya!

Raden Adipati Pringgalaya, begitulah sebutan masyarakat dan keluarga besar keraton Sumenep. Dalam lembaran sejarah kabupaten berjuluk Kota Keris ini, nama beliau memang tak begitu populer seperti tokoh-tokoh penting lainnya.

Raden Adipati Pringgalaya memiliki nama kecil Raden Saleh. Ia merupakan salah satu anak laki-laki dari pembesar tanah Jawa yang berkedudukan di Semarang. Ayahandanya ialah Kangjeng Kiai Suroadimenggolo V, seorang Adipati sekaligus Hoofd Regent yang berkedudukan di Semarang. Sebelum menetap di Sumenep, Raden Saleh pernah menjabat sebagai Bupati Lasem.

“Di masa kolonialisme, ayahanda Raden Saleh (Kangjeng Kiai) merupakan tokoh penting yang sangat berpengaruh dan anti penjajah Belanda. Beliau juga masih memiliki hubungan kekerabatan dengan Pangeran Diponegoro, sehingga sang Kangjeng Kiai dijadikan sebagai konsultan dalam Perang Jawa atau Perang Diponegoro,” terang R.B. Nurul Hidayat, salah satu pemerhati sejarah Sumenep.

Baca Juga:  Makam Joko Tarub dan Rimbun ‘Bambu Cinta’ di Pamekasan

Dicopot Jadi Bupati Lasem dan Jadi Patih Dhalem di Negeri Songenep

Nasib tak mujur juga dialami oleh Raden Saleh dalam peristiwa Perang Diponegoro. Ia juga ditangkap oleh penjajah Belanda. Akibat keterlibatannya dalam Perang Jawa, jabatan Raden Saleh sebagai Bupati Lasem juga dicopot oleh Pemerintah Hindia Belanda.

Keduanya didakwa sebagai tokoh utama di balik Perang Jawa. Beliau ditangkap dan ditawan di kapal perang Pollux, sehingga diasingkan ke tanah Ambon. Atas perundingan dan bala bantuan Sultan Abdurrahman Pakunataningrat, pada tahun 1829 Masehi, keduanya dibebaskan dan mendapat suaka dari keraton Sumenep, serta berkenan untuk menetap di Negeri Sumenep.

“Raden Saleh alias Pringgalaya merupakan sosok yang memiliki jiwa intelektual tinggi. Sehingga, beliau diangkat menjadi Patih Dhalem, atau wakil raja keraton Sumenep oleh sang Sultan. Selain sebagai patih keraton Sumenep, beliau adalah ipar dari Sultan Abdurrahman. Sebab, saudarinya yang bernama Raden Ajeng Khadijah diperistri sang Sultan,” terang Nurul Hidayat.

Keturunan Patih Pringgalaya

Dalam Babad Sumenep, karya Raden Musa’ied Werdisastra, dijelaskan bahwasanya Patih Pringgalaya dikaruniai 24 orang putra dan putri, di antaranya : 1) Raden Tumenggung Aria Mangkukusuma, 2) Raden Ayu Tumenggung Aria Purwanegara, 3) Raden Aria Sujanakusuma, 4) Raden Panji Mertalaya, 5) Raden Panji Mertakusuma, 6) Raden Panji Kusumabrata, 7) Raden Panji Tirtakusuma, 8) Raden Panji Mlayakusuma, 9) Raden Panji Pringgayuda, 10) Raden Panji Jayabrata, 11) Raden Panji Mangkukusuma, 12) Raden Ayu Tumenggung Aria Surawinata, 13) Raden Ayu  Anggadiwirya I, 14) Raden Ayu Mertasarana I, 15) Raden Ayu Jayasasmita, 16) Raden Ayu Aria Jayakusuma, 17) Raden Ayu Sunayuda, 18) Raden Ayu Nitidireja, 19) Raden Ayu Danakusuma, 20) Raden Ayu Ardikusuma, 21) Raden Ayu Anggajaya, 22) Raden Ayu Anggawirya II, 23) Raden Ayu Jayasasmita II dan 24) Raden Ayu Mertasarana.

Pasarean Sang Patih

Baca Juga:  Kangjeng Kiai: Hoofd Regent of Semarang Mertua Sultan Abdurrahman Pakunataningrat

Pasarean Patih Pringgalaya berada di kawasan luar Asta Tinggi, Sumenep. Artinya, bukan masuk sasaran tembak utama. Posisi asta beliau berada di samping kompleks Asta Kangjeng Kiai. Namun, pada cungkup dan area yang berbeda pula.

Sebuah gapura tampak berdiri kokoh di seberang jalan lintasan utama Asta Tinggi Sumenep. Dengan pagar depan yang terdiri dari dua lapis, tampak membentang di depan pusara keramat tersebut. Lokasinya berada di perut bukit Asta Tinggi, dengan sebuah papan nama bertuliskan : “Pekuburan Keluarga Raden Adipati Pringgoloyo Ruksbestuuder Sultan Sumenep”.

Asta Patih Pringgalaya berada pada sebuah kubah atau cungkup dengan gaya khas Jawa-Madura. Bentuk cungkupnya berupa rumah adat joglo atau pegon, dengan teras depan yang nampak masih terawat keberadaannya. Jirat dan nisan asta masih terjaga keasliannya. Nisannya terbuat dari batu marmer atau giok dengan corak nuansa Sumenep tempo dulu.

Baca Juga:  Samman Madura, Semoga Tidak Tinggal Kenangan

Pada nisannya terdapat tulisan Arab pegon yang berbunyi: Hadal qubur almarhum Raden Adipati Pringgalaya wafat fi lailatin Jum’ah (berangka Arab 10-2-1282 ) artinya: Ini kubur atau makam almarhum Raden Adipati Pringgalaya wafat pada malam Jum’at tanggal 10 bulan Safar tahun 1282 Hijriah.

“Kompleks Asta Patih Pringgalaya merupakan tempat pemakaman para anak keturunan serta kerabat dari sang Patih. Sebuah tembok yang tinggi kurang lebih dua meter tampak mengelilingi pasarean keramat tersebut. Di area luar cungkup sang Patih, terdapat pula asta atau makam Raden Musa’ied Werdisastra, sosok penulis sekaligus sebuah mahakarya yang luar biasa dalam rentetan sejarah Sumenep, yakni Babad Songenep,” pungkas Nurul Hidayat.

Tonton juga video Mamira.ID di youtube:

Penulis: Abd Warits

Editor: Mamira.ID