Legenda Mata Air Patellessan, Peninggalan Pottre Koneng Yang Bisa Bikin Awet Muda

Mamira.ID-Penamaan tempat atau toponimi di Madura banyak yang terkait dengan tokoh-tokoh di zaman lampau. Tak hanya nama desa, atau kampung, namun juga nama mata air atau sumber air.

Selain mata air atau sumber Banasare yang diulas pada tulisan sebelumnya, terdapat sumber lain yang menurut legenda terkait dengan Pottre Koneng. Sumber tersebut tidak jauh letaknya dari mata air Banasare.

Namun lokasinya sudah masuk kawasan Kecamatan Dasuk. Tepatnya di Desa Kecer. Sumber Patellessan namanya.

Berdasar penelusuran media ini, konon sumber tersebut dahulu biasa digunakan Pottre Koneng untuk mengambil wudlu’.

“Cerita turun-temurun. Bisa dikatakan dongeng para sepuh,” kata Faruq Dardiri, salah satu tokoh muda di Kecer, beberapa waktu silam.

Baca Juga:  Kiai Baroya: Penerus Estafet Perjuangan Kiai Faqih

Pottre Koneng merupakan salah satu tokoh yang termasuk paling sering dibincang dalam folklore Sumenep. Beliau juga tercatat cucu satu-satunya Secadiningrat I alias Agung Rawit alias Bermana Kandha, raja Sumenep di abad 14 Masehi

Ayah Pottre Koneng ialah Pangeran Banasare. Pangeran Banasare ini juga dicatat dengan sebutan Raja Gajah Pramono (dalam catatan lain Gajah Pramodo) alias Secadiningrat II (memerintah 1366-1386). Secadiningrat II adalah anak Agung Rawit.

Pottre Koneng juga dikenal sebagai ibunda Jokotole, legenda Keraton Sumenep dan bahkan Pulau Madura.

Kembali pada sumber air Patellessan, penamaan patellessan itu berasal dari kata telles, yaitu kain penutup yang biasa digunakan penduduk desa saat mandi.

Baca Juga:  Asta Tinggi Bagian II: Cungkup Pangeran Jimat

Saat ini Patellessan juga menjadi nama kampung di Desa Kecer. Mata air Patellessan diyakini masyarakat sekitar mengandung khasiat tertentu.

“Air sumber Patellessan menurut mitos setempat bisa membuat awet muda,” kata salah satu warga di sekitar sumber. Sebut saja namanya Ahmad.

Sumber Patellessan juga sejak dulu kala tidak pernah kering meski dalam kondisi kemarau panjang. “Air tetap saja begitu. Tidak pasang dan tidak surut,” kata Faruq, narasumber di atas.

Hingga saat ini, warga sekitar masih bergantung pada mata air ini. Sebagian besar warga masih menggunakan air sumber untuk kebutuhan rumah tangga dan pengairan sawah.

Red