Olet: Makanan Khas Lenteng yang Mulai Langka

Mamira.id – Sudah menjadi hal yang lumrah orang saat ini memfoto makanan kemudian mengaploadnya ke berbagai media sosial. Tak peduli lagi soal rasa, yang penting tampilannya menarik dan unik, rasa dari sebuah hidangan tak lagi menjadi prioritas utama, zaman memang sudah benar-benar berubah.

Lalu bagaimana dengan nasib Olet yang merupakan makanan tradisional ini? adakah pemuda milenial yang mengabadikan makanan ini di sosial medianya? Dari bentuk dan tampilannya saja tak begitu manarik untuk di aplaod di media sosial memang, tapi soal rasa jangan ditanya, sudah dijamin super mantab.

Bicara soal makanan atau jajanan tentu saja bukan hanya soal tampilan, keunikan dan rasa yang memanjakan lidah lalu kemudian berakhir diperut semata, melainkan juga penting bagaimana sejarah, proses membuat makanan tersebut sehingga tersaji dengan beraneka rasa, bentuk dan keunikannya. Seperti halnya makanan bernama Olet ini, makanan tradisional yang sudah menjadi warisan sejarah dan mengisi aneka ragam kuliner atau jajanan khas Kabupaten Sumenep.

“Olet ini makanan orang-orang kampung zaman dulu, sejak zaman kerajaan Olet itu sudah ada. Olet itu menjadi salah satu makanan pokok oleh kakek-kakek saya, bahkan buyut saya salah satu makanan pokoknya ya olet ini. Karena dulu memang jarang sekali yang namanya beras, jagung saja jaman dulu masih jarang-jarang,” kata pak Munir (52), salah satu warga lenteng pembuat Olet yang ditemui tim mamira beberapa hari lalu.

Baca Juga:  Jubhada, Jajanan Legendaris Khas Karduluk

Tak ada yang tau persis bagaimana asal muasal Olet itu ada sebagai makanan pokok orang jaman dulu. Namun menurut Ibu Umbiyah (70) yang merupakan ibunda Pak Munir menuturkan, jika orang tempo dulu singkong merupakan makanan pokok. Selain dibakar, cara orang jaman dahulu mengkonsumsi singkong dengan cara direbus. Mungkin Rasa bosan mengkonsumsi singkong dengan dua cara diatas, akhirnya orang-orang jaman dulu melakukan inovasi mengolah singkong dengan cara yang berbeda. Tentu pula rasanya saat dimakan juga akan menambah kaya akan rasa olahan singkong itu sendiri.

“Dulu singkong menjadi makanan utama karena sudah bosan mungkin ya, jadi diolah dengan cara yang berbeda. Diberi ketan hitam itu mungkin dulu punya sedikit atau sisa-sisa ketan hitam dulu, ketan itu dijadikan campuran kukusan singkong yang sudah dihaluskan itu, karena sudah diproses dengan cara yang jauh berbeda dari sebelumnya yang hanya direbus atau dibakar, kemudian makanan ini dikasi nama Olet, mungkin. Saya ga tau juga carita pastinya gimana, tapi yang saya dengar dari kakek-nenek saya begitu,” papar Ibu Umbiyah disertai tawa kecil sembari terus mengupas singkong yang akan dibikin Olet.

Baca Juga:  Gurihnya Rengginang Lorju', Oleh-oleh Khas Prenduan

Jenis Singkong Bahan Dasar Olet

Umumnya, semua jenis singkong bisa dijadikan bahan dasar Olet. Namun singkong yang biasa digunakan untuk bahan dasar untuk membuat olahan Olet adalah jenis singkong kuning atau ada juga yang menyebut singkong karet atau singkong mentega. Secara tekstur antara singkong kuning atau singkong putih tak jauh berbeda, namun saat direbus singkong putih lebih empuk dan aromanya berbeda. Secara alami, singkong kuning lebih wangi jika dijadikan bahan dasar Olet.

Untuk singkongnya sendiri, Ibu Umbiyah memang punya kebun singkong sendiri. Namun jika singkong di kebunnya sudah habis, baru beli ke pasar Lenteng yang tak jauh dari rumahnya. Selain singkong, ada pula ketan hitam sebagai bahan tambahan bahan dasar olet.

Baca Juga:  Kiai Agung Abbas dan Tanah Sakral di Belahan Utara Sumenep

“Harus singkong kuning, kalau bukan singkong kuning rasa dan aromanya ga enak, korang nyaman (kurang enak),” kata Ibu Umbiyah sambil mulai membuat nyala api di tungku yang terbuat dari tanah liat di dapur sederhananya.

Ibu Umbiyah membuat Olet memang di dapur khusus, dapur dengan ukuran 3×2 meter itu masih berlantai tanah dan berdinding anyaman bambu. Posisi dapur mungil ini terletak tak jauh dari halaman depan rumahnya sekira 7 meter dari teras rumah, berdampingan dengan kamar mandi.

“Ini dapur khusus membuat olet, emang khusus. Soalnya olet dimasak pakai kayu bakar. Kalau pakai kompor kelamaan matengnya. Dan wanginya juga jauh lebih harum pakai kayu bakar. Nanti beda rasanya kalau dimasak pakai kompor. Asapnya ini yang menambah harum olahan kukusan singkong,” katanya disertai gelak tawa.