Mengenal Konsep Datangnya Rezeki dalam Perspektif Dua Imam Besar Islam

MAMIRA.IDMayoritas umat Islam se-dunia sepakat bahwa ada empat mazhab yang diakui. Dalam hal yang bersangkut paut dengan ilmu Fikih, umat Islam bersandar kepada keempat mazhab itu. Empat mazhab tersebut digagas oleh para imam besar yaitu Imam Hanafi, Imam Malik, Imam Syafi’i, dan Imam Hanbali. Di Nusantara, mayoritas umat Islam bersandar pada mazhab Imam Syafi’i.

Imam Syafi’i merupakan murid dari Imam Malik. Beliau berguru kepadanya walau ‘tidak langsung’. Hal itu dikarenakan, Imam Syafi’i telah hafal isi keseluruhan dari kitab karangan Imam Malik saat berusia 10 tahun. Kitab tersebut adalah karya terbesar Imam Malik yaitu Al-Muwatta’.

Dalam menentukan suatu hukum, perbedaan pendapat kerap kali terjadi di antara guru dan murid itu. Keduanya memiliki pandangan sendiri melalui hasil ijtihad yang tentunya merujuk pada Al-Quran dan hadits. Bahkan, dikisahkan Imam Malik dan Imam Syafi’i pernah beda pendapat tentang hal datangnya rezeki.

Baca Juga:  Kiai Abi Syuja’: Pemimpin Laskar Usir Penjajah dari Sumenep

Dikisahkan, tatkala Imam Malik berada di suatu majlis, beliau berkata bahwa rezeki itu tidak usah dicari, cukup dengan tawakal yang benar, niscaya ia akan datang dengan sendirinya.

“Lakukan yang menjadi bagianmu, selanjutnya biarkan Allah mengurus lainnya,” kata Imam Malik saat itu.

Mendengar pendapat Imam Malik tersebut, Imam Syafi’i tidak sependapat dengan gurunya, hingga kemudian beliau mengemukakan pendapatnya dengan sebuah kiasan pada seekor burung di dalam sangkar yang tidak mungkin mendapatkan makanan, kecuali keluar untuk mencarinya. Baginya, rezeki harus dilalui melalui jalan ikhtiar, tidak cukup dengan tawakal saja.

Hingga suatu ketika, saat Imam Syafi’i sedang berjalan-jalan, beliau melihat segerombolan orang yang sedang memanen anggur. Beliau ikut membantu mereka. Para pemanen itu memberikan beberapa ikat anggur kepadanya sebagai imbalan atas bantuannya.

Baca Juga:  Menggali Misteri Di Balik Tapak Tilas Pangeran Mandaraga

Seketika saat itu, Imam Syafi’i teringat akan pandangan gurunya tentang perkara rezeki. Sang imam pun pergi menuju kediaman Imam Malik untuk memberikan anggur itu sebagai hadiah, sekaligus meyakinkan pandangannya perihal datangnya rezeki.

“Seandainya saya tidak keluar pondok dan melakukan sesuatu, tentu anggur ini tidak akan sampai ke tangan saya,” kata Imam Syafi’i kepada Imam Malik.

Sembari mencicipi anggur hadiah dari muridnya itu, Imam Malik tersenyum seraya berkata, “seharian ini, aku tidak keluar rumah, hanya menjalankan tugasku sebagai guru. Sedikit berpikir alangkah nikmatnya jika di hari yang panas ini bisa menikmati anggur. Tiba-tiba engkau datang membawakanku beberapa ikat anggur. Bukankah ini bagian dari rezeki yang datang tanpa sebab? Cukup dengan tawakal yang benar, niscaya Allah akan memberikan rezeki. Lakukan yang menjadi bagianmu, selanjutnya biarkan Allah yang mengurus lainnya.”

Baca Juga:  Asmara Berujung Prahara: Kisah Cinta Patih kepada Ratu Tirtanegara

Imam Syafi’i pun bergeming sejenak, hingga kemudian beliau tertawa mendengar penjelasan gurunya itu. Keduanya pun saling melempar tawa.

Dari kisah di atas tersirat suatu hikmah yang patut dijadikan teladan bagi umat Islam dalam menyikapi perbedaan. Penting adanya sikap saling menghargai tanpa saling memusuhi.

Seperti halnya dewasa ini, seringkali terjadi perselisihan di antara dua orang karena hal sepele yang dibesar-besarkan akibat silang pendapat. Bukankah lebih elok jika suatu hal dibicarakan dengan baik tanpa dicampuradukkan emosi?