Menelusuri Jejak Cina Muslim di Madura

Lalu bagaimana kisah Kien Bieng Seng bisa sampai ke daerah Tamedung?

Tidak ada keterangan tertulis mengenai kisah hidup Kien Bieng Seng. Riwayat lisan di Tamedung sendiri, menurut keterangan Warits juga sangat minim. Hanya saja, menurut salah satu keterangan, di daerah tersebut juga disebut sebagai lokasi terdamparnya 6 tentara Tartar atau Mongol, yang salah satunya ialah kakek Lauw Piango, arsitek Masjid Jami’ dan Keraton di masa Panembahan Sumolo (1762-1811 M).

“Muncul kemudian dugaan Kien Bieng Seng ini salah satu dari 6 tentara itu. Namun apakah itu benar masih belum bisa dipastikan,” tambah Warits.

Keturunan Kien Bieng Seng lantas berasimilasi dengan penduduk pribumi. Kemudian menyebar di bagian pesisir Sumenep atau pantura hingga Pasongsongan.

Baca Juga:  Asta Tinggi Bagian II: Cungkup Pangeran Jimat

Masyarakat Desa Tamedung sendiri menyebut Kien Bieng Seng dengan awalan Kiai. “Jadi yang dikenal di sini beliau bernama Kiai Bieng Seng atau Bien Seng. Pada prasasti nisannya memang tertulis Kien Bieng Seng. Sehingga bisa saja kata Kien lambat laun dilafalkan menjadi Kiai. Bisa jadi begitu (Kien menjadi Kiai; red),” imbuh Warits.

Ket.Foto: Rumah keturunan Kiai Bieng Seng yang berada di perkampungan radin, Desa Tamedung, Batang-batang

Warits mengaku tidak memiliki riwayat khusus tentang hal itu. Kemungkinan sebutan kiai pada Kien Bieng Seng sebagai gelar ketokohan, yang identik dengan gelar keilmuan di bidang agama.

“Banyak tokoh-tokoh kiai di bagian timur Sumenep ini yang juga bernasab ke Kiai Kien Bieng Seng dan Buju’ Nipa. Salah satu keturunan Kiai Bein Seing ada yang diperistri oleh salah satu ulama di sana, tokoh yang diyakini sebagai waliyullah di Sumenep. Ya, Buju’ Nipa itu sendiri,” ungkapnya.

Baca Juga:  Nanggala: Alat Bajak Sawah Tradisional Madura, Riwayatmu Kini

“Keturunan beliau rata-rata dahulu dipanggil Radin atau Raden, karena konon Buju’ Nipa masih ada hubungan darah dengan keluarga keraton,” pungkas Warits.

Mamira.ID