Loteng, Potret Miniatur Keraton dalam Keraton di Sumenep (1)

SUMENEP, MAMIRA.id – Secara leksikal, Loteng merupakan bagian dari rumah bertingkat, lantai atas, atau langit-langit dari rumah berlantai dua.

Di Sumenep, Madura Timur, bangunan Loteng identik dengan rumah berlantai dua peninggalan kuna. Biasanya bangunan ini dimiliki oleh kalangan bangsawan utama di abad 19. Umumnya dimiliki oleh para putra raja. Namun faktanya, tidak setiap putra raja memiliki bangunan Loteng.

“Di Sumenep hanya para pangeran di antara beberapa putra Sultan Sumenep saja yang memiliki bangunan Loteng,” kata RB Muhlis, salah satu pemerhati sejarah di kalangan keturunan bangsawan Sumenep, Selasa (01/09/2020) lalu.

Sultan Sumenep, yaitu Sultan Abdurrahman Pakunataningrat (memerintah 1811-1854) tercatat memiliki 33 anak. Sekitar 9 putranya bergelar pangeran. Biasanya yang bergelar pangeran ini lahir dari istri-istri utama. Seperti Pangeran Natanegara (lalu berubah menjadi Panembahan Natakusuma II), Pangeran Letnan Kolonel Kusumo Sinerangingrana, Pangeran Kolonel Kusumo Sena Ningalaga, Pangeran Suryoamijoyo, Pangeran Suryoadiputro, Pangeran Letnan Kolonel Meriam Kusumoningayudo, dan lainnya.

Baca Juga:  Makna Budaya Nyabis Bagi Orang Madura

Kendati begitu, hanya empat orang pangeran saja yang dikenal memiliki bangunan Loteng sebagai tempat tinggal. Mereka adalah Pangeran Kolonel Kusumo Sena Ningalaga atau biasa disebut Pangeran Kornel di Loteng Pasarsore, Karangduak. Lalu Pangeran Letnan Kolonel Kusumo Sinerangingrana atau yang masyhur dikenal dengan nama Pangeran Le’nan di Loteng Kepanjin dekat Masegit Laju (Masjid Lama).

Dua lainnya ialah Pangeran Suryoamijoyo (Pangeran Ami) di Loteng Kepanjin Barat atau kampung Bujanggan, dan Pangeran Suryoadiputro (Pangeran Adi) di Loteng Kepanjin Timur.

Baik Karangduak maupun Kepanjin saat ini menjadi dua di antara empat kelurahan di kawasan Kecamatan Kota Sumenep.

“Sementara para pangeran selain keempat pangeran tersebut tidak dikenal memiliki peninggalan loteng di Sumenep. Ada pangeran yang menetap di luar Sumenep hingga wafatnya, seperti Pangeran Kusumoningayudo di Bentungan, Situbondo. Juga para putra yang tidak bergelar pangeran, seperti Raden Ario Prawirokusumo, Raden Ario Joyowinoto, dan lainnya, yang kediamannya tidak memiliki loteng,” kata RB Ja’far Shadiq, pemerhati sejarah lainnya dari keluarga bangsawan keraton.

Baca Juga:  Peristiwa Ajaib di Balik Bertobatnya Kiai Ceddir, Cucu Kiai Khatib Paranggan

Meski keempat pangeran di atas dikenal memiliki bangunan loteng sebagai tempat tinggalnya, tidak semua loteng masih berfungsi sebagai tempat tinggal keluarga besar atau anak cucunya. Bahkan, ada salah satu loteng yang sudah tinggal bekasnya saja.

Penulis: Sidi Mufy
Sumber: Media Center