Kaldu Kokot Madura: Kuliner Nusantara yang Nikmatnya Tiada Tara

Mamira.ID Selain soto campor dan sate, Pulau Madura juga memiliki kuliner khas lain yang tak kalah lezat. Kaldu kokot, begitulah sebutan kuliner khas yang berasal dari Kota Keris, Sumenep, Madura.

Daging sapi adalah salah satu bahan dari kuliner yang satu ini, hanya saja ada yang spesial berupa berupa kaki sapi (Madura: Kokot) sebagai ciri utama kuliner khas ini. Kokot sapi yang direbus hingga empuk menjadikan kuliner yang satu ini sangat berbeda dengan kuliner-kuliner lainya. Aroma, rasa lezat, dan gurihnya kokot menambah kenikmatan yang tiada tara.

Kaldu kokot merupakan sup berbahan dasar daging sapi. Uniknya, sup ini menggunakan kacang hijau sebagai campuran kuahnya dengan aroma rempah yang menambah kenikmatan kuliner khas Nusantara ini. kentalnya bumbu, gurihnya kacang hijau, dan lezatnya daging yang menempel pada kokot akan membuat siapa saja ketagihan.

Baca Juga:  Kiai Agung Abbas dan Tanah Sakral di Belahan Utara Sumenep

Warung “Mak Sun” yang berlokasi di Jalan Raya Ganding, tepatnya di Desa Ketawang Larangan, Kecamatan Ganding, Sumenep, warung ini menyediakan kaldu dengan tiga varian, di antaranya adalah kaldu biasa, kaldu kikil sapi, dan kaldu kokot. Kuliner ini diracik dengan rempah-rempah khas Nusantara, untuk menambah cita rasa yang unik dan lezat.

Menu kaldu kokot disajikan dalam wadah piring atau mangkok. Biasanya, disediakan juga ketupat atau lontong. Setelah kaldu beserta isian seperti daging dan kokot dituangkan di atas piring, kemudian ditaburi bawang goreng untuk menambah aroma dan cita rasa.

Ket.Foto: Seporsi kaldu kokot di warung Mak Sun hanya dibandrol 30 ribu rupiah. (Mamira.ID)

“Kaldu kokot sangat pas jika dipadukan dengan lontong, dan sebagai pelengkapnya ditambah keripik, keripik tette ataupun kerupuk. Sebagai toppingnya, terkadang memakai kecambah atau toge mentah, bawang goreng, dan ada pula yang memakai daun bawang. Kalau kata salah satu pelanggan saya, aroma daun bawang lebih nikmat dibandingkan dengan bawang goreng,” ujar Mak Sun.

Baca Juga:  Jalabiya: Kue Manis Legit Khas Daerah Ujung Timur Pulau Garam

Cara menikmati kaldu ini juga cukup unik, selain menggunakan sendok, penikmat kaldu kokot biasanya juga menggunakan sedotan untuk menikmati sumsum yang terdapat di tengah tulang kikil sapi tersebut. Sumsum sapi rasanya lezat dan nikmat, apalagi jika dinikmati saat panas, pasti akan terasa gurihnya.

“Kalau di sini, sambalnya harus ekstra pedas, karena kebanyakan suka pedas. Tapi, saya sediain sambal yang pedasnya sedang. Kecap manis wajib selalu ada, karena hampir semua pelanggan suka ditambah kecap pada kuah kaldunya. Jarang sekali pelanggan yang makan tanpa kecap,” ujarnya.

Setiap hari, warung kaldu milik Mak Sun selalu ramai akan pembeli, mulai dari para pegawai, pedagang, hingga petani pun selalu berjubel untuk menikmati sepiring kaldu yang khas ini. Para pemuda milenial pun tak mau ketinggalan menikmati kuliner yang satu ini. Apalagi ketika hari libur, pasti selalu ramai akan para pembeli.

Baca Juga:  Gung Seppo, dan Gerbang Salam Pasca Adikoro

“Biasanya per-hari menghabiskan kurang lebih 100 porsi. Harganya pun cukup terjangkau, yakni kisaran 8 ribu hingga 30 ribu rupiah, tergantung varian menunya. Kalau hari libur terkadang sampai menghabiskan 200 porsi,” pungkas Mak Sun.

Tonton video teranyar Mamira.ID di youtube:

Mamira.ID