Agung Sayyid Tembing, Penyambung Silsilah yang Terputus (2)

SUMENEP, MAMIRA.id – Akhirnya, silsilah yang terputus (tanpa diketahui) antara Syekh Abdurrahman Rombu dengan Syekh Mahfudz Gurang Garing kembali tersambung dengan ditemukannya nama K. Agung Tembing dalam manuskrip silsilah milik KH Zaini Romli dari Curah Kalak (Cora Kalak), Situbondo.

Sebagaimana dituturkan dalam tulisan sebelumnya, semua itu berkat pertemuan alhmaghfurlah KH Jailani Mas’ud, orang tua K. Junaidi Sema, dengan KH Zaini Romli pada suatu kesempatan.

Sejak terkuaknya silsilah K. Agung Gurang Garing bin Agung Sayyid Tembing dalam manuskrip silsilah dari Curah Kalak sekitar sepuluh tahun lalu itu, bukan saja memasukkan nama Agung Sayyid Tembing dalam silisilah yang masyhur di kalangan masyayikh Lambi Cabbi, Gapura Tengah.

Para dzurriyah Syekh Abdullah (nama asli Agung Sayyid Tembing), akhirnya membersihkan, merawat dan menziarahi Asta beliau yang berada di Dusun Tembing, Desa Banjar Barat, Kecamatan Gapura.

Cara Dzurriyah Mengingat dan Merawat Makam Leluhur

Salah satu cara mengingat dan merawat yang dilakukan dzurriyah Agung Sayyid terhadap leluhurnya adalah dengan melaksanakan Haul Akbar Agung Sayyid bin Sayyid Syarif Abdurrahman Rombu pada Ahad (4/10/2020) lalu, di Dusun Tembing, Desa Banjar Barat, Kecamatan Gapura.

Kegiatan haul tersebut berlangsung hikmat di dekat lokasi Asta Syekh Abdullah, dihadiri para kiai, dzurriyah, dan masyarakat umum dari berbagai kecamatan di Kabupaten Sumenep hingga Kabupaten Bangkalan.

Baca Juga:  Makamnya Dahulu Dikelilingi Sungai, Jasad Raja Sumenep Ini Lenyap Kala Dikuburkan

Persembahan Tahlil dalam acara waktu itu dipimpin oleh KH. Syarbini Lathif, setelah dibuka dan dilanjutkan dengan pembacaan ayat suci Alquran serta Shalawat Nabi.

Ketua Panitia sekaligus dzurriyah Agung Sayyid Tembing, K. Tirmidzi Mas’ud mengungkapkan, haul tersebut merupakan upaya mengingat dan merawat makam leluhur yang sebelumnya tidak terawat.

Karena itu, ia bahagia para dzurriyah dan muhibbin Agung Sayyid Tembing bisa hadir dalam acara haul yang diyakini kehadirannya berkat dipanggil oleh Agung Sayyid.

“Sekitar tahun 2010 atau 2011 di sini (Asta Agung Sayyid, red) penuh dengan semak dan belukar, tidak terawat,” kata K. Tirmidzi dalam sambutannya waktu itu.

Kemudian berkat kompolan yang rutin keliling setiap Jumat Legi _yang dirintis K. Tirmidizi sejak tahun 1999, akhirnya Asta yang berada di pinggir sungai tersebut di kemudian hari dikenal sebagai Asta Agung Sayyid.

“Tetapi sebelumnya bukan tidak ada orang yang tahu bahwa di sini ada makam Agung Sayyid. Hanya saja tidak terawat,” imbuhnya.

Sebelum haul dilaksanakan setiap tahun, kata Kiai Tir, demikian akrab dipanggil, jamaah kompolan Jumat Legi kadang setahun sekali baru bisa ziarah ke Asta Agung Sayyid.

Baca Juga:  Agung Sayyid Tembing, Penyambung Silsilah yang Terputus (1)

Barulah pada tahun 2013, jamaah kompolan Jumat Lagi bersama para dzurriyah dan masyarakat sekitar asta melaksanakan haul secara resmi meskipun dengan jumlah yang sedikit dan kegiatan ala kadarnya.

“Jadi, tidak ada yang tahu kapan tanggal dan bulan Agung Sayyid meninggal. Cuma semuanya dulu sepakat dilaksanakan tanggal 15 tepat bulan Dzulhijjah,” tutur Kiai Tir.

Sejak itu, haul dilaksanakan dengan tuan rumah secara bergilir. Kadang oleh Kepala Dusun Tembing di sebelah timur asta, Ustadz Abd. Raziq dan masyarakat di sebelah selatan asta, kadang pula dzurriyah Agung Sayyid sendiri di sebelah utara asta.

“Alhamdulillah sampai sekarang bisa melaksanakan haul lagi dan bisa mengumpulkan famili, dzurriyah, dan lainnya sesuai hasil musyawarah yang dihadiri masyayikh dan dzurriyah dari Lambi Cabbi dan Battangan,” papar Kiai Tir.

Tak lupa, mewakili dzurriyah dan panitia waktu itu, putra KH. Mas’ud, Pengasuh Ponpes Al-In’am Desa Banjar Timur tersebut mengucapkan terima kasih kepada semua yang hadir dalam acara haul.

Sehingga, cita-cita mengumpulkan para dzurriyyah dan muhibbin Agung Sayyid Tembing, yang tak lain orang tua dari Syekh Mahfudz Asta Gurang Garing Desa Lombang, Kecamatan Batang-Batang itu bisa terlaksana.

Baca Juga:  Syekh Ali Akbar dan Makna di Balik Nama Pasongsongan

“Kami juga mohon maaf karena tempat yang kurang memadai, juga manakala suguhan yang merupakan sedekah dari masyarakat sekitar ala kadarnya,” ucap Kiai Tir.

Selain dzikir tahlil, Haul Akbar Agung Sayyid bin Sayyid Syarif Abdurrahman Rombu diisi dengan hikmah haul oleh KH. Tuhfatul Habib Faraid, Pengasuh Ponpes Syaichona Yahya Karang Anyar, Kamal, Bangkalan.

Ikut hadir dalam haul tersebut, KH. Faraid Akbar Karang Anyar, orang tua KH. Tuhfatul Habib Faraid, yang merupakan dzurriyah Agung Sayyid Abdullah Tembing.

Hadir pula penyair KH. D. Zawawi Imron dari Kecamatan Batang-Batang, KH. Fakhrurrozi Barangbang, KH. Mukafi Dumyati Dik-Kodik, Gapura Timur, KH. Maimun Lambi Cabbi, KH. Asy’ari Marzuqi Battangan, KH. Moh. Arifin Gapura Barat, KH. Roji Fawaid Baidlowi Jadung dan para kiai lainnya.

“Semoga yang hadir dalam acara haul hari ini termasuk dalam golongan, muhibbin, dan yang mencintai dan dicintai oleh beliau (Agung Sayyid) dan nanti bisa bersama-sama menghadap Allah di bawah bendera lailaha illallah muhammadur rasulullah SAW,” tandas Kiai Tir. (Habis)

Penulis: Rafiqi
Editor: MAMIRA.id