Tali Kobal Poco’ Madura: Bahan Dasar Tas Rajut dan Suovenir Bali

Mamira.IDCorypha gebanga adalah nama sejenis palma tinggi besar dari daerah dataran rendah. Tumbuhan ini juga dikenal dengan nama-nama lain, pohon gebang/agel (bahasa Indonesia), gabang (Dayak Ngaju), gewang (Timor), pucuk (Betawi), poco’ (Madura), ibus (Batak, Sasak), silar (Minahasa), dan dalam bahasa Inggris disebut gebang palm.

Pohon agel, atau orang Madura menyebutnya sebagai pohon poco’, merupakan pohon yang tumbuh di dataran rendah, dengan diameter batang hampir menyerupai pohon siwalan, namun daunnya berbeda. Daun pohon poco’ menyerupai daun palem, dan mempunyai kualitas tersendiri yang dapat bernilai rupiah bila dikelola sebagai kerajinan tangan.

Seperti halnya pohon siwalan yang daunnya dapat dibuat tikar anyaman atau teker rakara, daun pohon poco’ juga dapat dimanfaatkan, yakni dapat dibuat tali atau tambang. Selain bernilai ekonomis, tali kobal juga memiliki tekstur yang bagus dan kuat. Tali-tali dari poco’ ini biasanya dikirim ke berbagai wilayah di Jawa Timur. Bahkan, ke Pulau Dewata, Bali. Tali dari daun poco’ ini disebut dengan kobal oleh orang Madura.

Baca Juga:  Misteri Nama Asli Kiai Agung Nepa, Waliyullah dari Kampung Raden

“Orang-orang di sini menjual kobal setengah jadi ke pengepul. Belum dipilin menjadi tali agel atau tambang. Makanya harganya murah. Oleh orang Bali, dijadikan sebagai kerajinan tangan. Harganya akan beda lagi kalau sudah begitu. Di sana, pasti turis-turis yang beli,” terang Juma’iyah, salah satu pengrajin tali kobal atau tali dari daun poco’ di Desa Kolpo, Kecamatan Batang-batang, Sumenep.

Selain dibikin tali atau tambang, tali poco’ tersebut juga bisa dijadikan aksesoris, seperti topi, gelang, dompet, tempat tisu, tempat pensil, dan aksesoris lainnya. Bahkan, bisa dibuat tas rajut dan dompet. Dari tangan-tangan terampil, tali daun poco’ dapat berbuah rupiah serta memiliki nilai jual yang cukup fantastis di kancah nasional. Bahkan, jika dikelola dengan baik akan bernilai ekspor.

Ket.Foto: Daun poco’ sedang dijemur sebelum kemudian dijual kepada pengepul. (Mamira.ID)

“Daun pohon poco’, kalau di Madura masih laku layaknya daun siwalan. Jika daun silawan dapat dibuat tikar, daun pohon poco’ juga tak mau ketinggalan, bisa dijadikan berbagai kerajinan dan juga menghasilkan pundi-pundi rupiah tentunya. Biasanya, dibuat tali agel, atau orang Madura menyebutnya eserrot epadaddi kobal. Kobal yang sudah kering dapat dijual kepada para pengepul dengan harga yang lumayan per kilonya. cukuplah, buat beli lauk-pauk,” ujar Juma’iyah sambil tersenyum.

Baca Juga:  Berkendara Imajinasi, Arsitek Masjid Kuna Ini Membuat “Duplikat” Tembok Raksasa Cina

Daun poco’ biasanya diambil yang masih muda atau belum mekar daunnya. Hal ini dilakukan, karena yang masih muda biasanya menghasilkan tali yang berwarna putih dan bagus. Sudah tentu, harganya lebih mahal daripada yang sudah mekar. Daun yang sudah mekar juga dapat menghasilkan kobal. Namun, warnanya agak kusam, dan nilainya lebih murah dibandingkan yang putih.

Di Madura, pohon poco’ tumbuh di dataran rendah dan pinggiran kali atau sungai. Pohon tersebut tumbuh subur dan menjulang tinggi hingga puluhan meter layaknya pohon siwalan. Batang pohon poco’ lebih besar dari pohon siwalan, serta pelepah daunnya berduri tajam.

Daun yang sudah diambil lalu dipisahkan dari lidinya untuk proses selanjutnya. Para pengrajin yang mayoritas kaum ibu-ibu, biasanya mengerjakan proses ini dengan posisi selonjotan atau ngonjur kata orang Madura, tangannya sambil menyerut (Madura: nyerrot) daun-daun tersebut, hingga menghasilkan tali atau kobal.

Baca Juga:  Campor, Kuliner Berkuah Santan Khas Sumenep

Daun yang diserut akan terbagi menjadi dua bagian. Pertama, menjadi kobal yang nantinya dipilin menjadi tali agel. Kedua, menjadi limbah, atau orang Madura menyebutnya soba’. Sobatersebut tidak lantas dibuang begitu saja, namun dimanfaatkan, yakni untuk kayu bakar saat memasak atau memanggang timba rakara, yang digunakan untuk wadah air siwalan alias legen. Sebab, pengasapan dari soba’ menghasilkan aroma yang khas pada air legen.

Kobal yang dihasilkan dari daun poco’ harus dikeringkan terlebih dahulu sebelum dijual kepada para pengepul. Kalau matahari sinarnya panas, satu hari bisa kering. Kobal tersebut biasanya diikat kecil-kecil seperti jempol kaki. Harga kobal per kilonya kurang lebih Rp15.000,00 hingga Rp18.000,00. Sementara, lidi daun poco’ juga bisa dijual setelah dibersihkan menjadi sapu lidi dengan harga Rp3.000,00,” pungkas Juma’iyah.

Jangan lupa juga tonton video Mamira.ID di youtube:

Penulis: Abd Warits

Editor: Mamira.ID