Sepenggal Kisah Agung Sudagar: Batu Nisan dan Perjalanan (1)

SUMENEP, MAMIRA.id – Suatu pagi menjelang siang pada tanggal 27 Mei 2020 lalu, saya bersama keluarga berziarah ke makam Agung Sudagar. Seseorang yang biasa saya sebut dalam “khushushan” fatihah sehabis salat lima waktu.

Lupa kapan tepatnya saya mengetahui nama almarhum dari seorang sahabat semasa Aliyah. Hanya ingat ia disebut-sebut sebagai putra dari Syekh Mahfudz Gurang Garing yang astanya berada di Desa Lombang, Kecamatan Batang-Batang.

Kiai Sudagar, demikian saya dengar namanya dari sahabat itu, masyhur dengan sebutan Agung Sudagar di kalangan para dzurriyah.

Agung Sudagar dimakamkan di Asta Lao’ Songai Lambi Cabbi, tepatnya di Dusun Talesek, Desa Gapura Barat, Kecamatan Gapura. Dari jalan masuk di depan Pasar Gapura kurang lebih berjarak 1 Km ke lokasi.

Pemakaman cucu Sayyid Syarif Abdurrahman Rombu itu berada di dataran tinggi, yang tak jauh dari lokasi kini terdapat jembatan penghubung antara Dusun Talesek, Desa Gapura Barat dengan Kampung Lambi Cabbi, Desa Gapura Tengah.

Baca Juga:  Sejak Kapan Gelar Panembahan Digunakan di Madura Timur?

Masyarakat Sumenep mengenal jembatan itu sebagai Jembatan Gantung Aladin. Program Kementerian PUPR melalui salah satu anggota DPR RI asal Kecamatan Ambunten yang rampung bulan April lalu itu, sempat menjadi pusat perhatian dan ramai di pemberitaan media.

Tonton Video Ini:

Kembali ke Agung Sudagar, ia adalah keturunan ketujuh dari Sayyid Syekh Ja’far Shadiq alias Sunan Kudus Jawa Tengah.

Agung Sudagar adalah putra Syekh Mahfudz Gurang Garing Lombang, yang merupakan putra Sayyid Syarif Abdurrahman Rombu (Gung Rombu) Gapura Barat.

Gung Rombu sendiri adalah putra Khatib Pranggan Bangkal, Kota Sumenep yang merupakan putra dari Syekh Ahmad Baidlawi Asta Katandur, Bangkal.

Sedangkan Syekh Ahmad Baidlawi adalah putra Syekh Amir Hasan, Penembahan Pakaos, yang tak lain adalah putra Sayyid Syekh Ja’far Shadiq Sunan Kudus.

Silsilah Agung Sudagar ini bersumber pada catatan silsilah milik almaghfurlah K Masyhuri Azhari yang masyhur di kalangan masyayikh Lambi Cabbi, Gapura Tengah.

Baca Juga:  Bindara Ibrahim: Saudara Seayah Kangjeng Tumenggung Tirtanegara

Sumber lainnya adalah Buku Induk Silsilah & Dzurriyah Agung Sudagar buah karya Tim Nyambung Aseh, merupakan buku silsilah yang disusun berdasar catatan silsilah peninggalan K Masyhuri Azhari dengan penelusuran kepada berbagai sumber.

Ketika berziarah ke makam Agung Sudagar akhir Mei 2020 lalu, saya menghubungi Ahmad Fawaid. Seseorang yang saya sebut sebagai sahabat di awal cerita.

Saya sengaja mengajak Fawaid ke lokasi sebagai penunjuk makam Agung Sudagar. Sebab, itu kali pertama berziarah ke pusara putra Syekh Mahfudz Gurang Garing.

Usai sekadar membaca surah Yasin dan doa, juga tak lupa mengambil foto nisan Agung Sudagar yang berada di bagian selatan Asta Lao’ Songai, saya beranjak ke makam Gung Rombu yang berada di bagian utara asta.

Sehabis itu, kami, saya dan Fawaid, beristirahat sambil ngobrol di musala asta.

Baca Juga:  Melihat Jejak Kiai Agung Rahwan dan Ribuan Bambu Merunduk di Tanah Sendir  

“Saya punya buku silsilah Agung Sudagar, dari Lambi Cabbi,” kata Fawaid di sela obrolan pada Rabu (27/05/2020) silam.

Mendengar penuturan Fawaid, tanpa pikir panjang, saya mengutarakan niat untuk meminjam buku itu. Kami pun beranjak ke rumah Fawaid yang berjarak kurang lebih 300 meter dari Asta Lao’ Songai.

Buku itu, berhasil saya pinjam. Dan saat cerita ini ditulis belum saya kembalikan.

Menurut Fawaid, buku itu disusun oleh dzurriyah Agung Sudagar yang berada di Kampung Lambi Cabbi. Yang kebetulan, salah satu tim penyusunnya saya kenal dan saya hubungi sebelum penulisan cerita ini.

Bukan sekadar untuk mengutip buku sebagai sumber pelengkap cerita saja. Melainkan, untuk menulis ulang dan menayangkan Biografi Singkat Agung Sudagar yang berada di bagian awal buku ke MAMIRA.id pada tulisan selanjutnya. (*)

Penulis: Rafiqi
Editor: MAMIRA.id