Karang Sabu Sumenep: Asta Tumenggung Kanduruan Putra Raden Fatah Demak

Mamira. ID – Asta Tinggi Sumenep memang telah dikenal sebagai tempat peristirahatan terakhir para raja beserta keluarga, kerabat, dan anak cucu dari kalangan keraton Sumenep. Namun, tidak semua raja disemayamkan di sana. Utamanya, raja atau adipati yang memerintah di Sumenep pada pertengahan abad ke-15 Masehi, yang makamnya terletak di kompleks Asta Karang Sabu.

Asta Karang Sabu merupakan kompleks pemakaman keluarga raja atau adipati Sumenep, yaitu Tumenggung Kanduruan, Pangeran Lor, dan Pangeran Wetan. Di daerah Karang Sabu inilah beliau bertahta memimpin Sumenep pada tempo itu.

Dalam Babad Sumenep karya Raden Musa’ied Werdisastra, diterangkan bahwasanya Raden Tumenggung Kanduruan adalah putra dari Sultan Alam Akbar Al-Fatah alias Raden Fatah. Raden Fatah merupakan Raja Kesultanan Bintara Demak. Demak merupakan kerajaan Islam di tanah Jawa Dwipa, yang secara historiografi se-zaman dengan Wali Sanga yang berperan penting dalam proses islamisasi di bumi Nusantara ini.

Baca Juga:  Kuasai 40 Bahasa, Hafal Al-Qur'an dan Sederet Kelebihan Sultan Abdurrahman Pakunataningrat

“Raden Fatah merupakan putra dari Prabu Kertabumi alias Brawijaya V dengan seorang  putri keturunan dari Cina. Tumenggung Kanduruan, pada masa remajanya, beliau pernah mengabdi kepada Ratu Japan yang bernama Ratna Dewi Maskumambang,” terang R.B. Jakfar Shadiq, salah satu pemerhati sejarah Sumenep.

Tumenggung Kanduruan berkuasa di Sumenep antara tahun 1559-1562 Masehi. Ia bertahta di pusat keratonnya yang berada di Kampung Karang Sabu, Desa Karangduak, Kecamatan Kota, Kabupaten Sumenep.

Ket.Foto: Komples Asta Karang Sabu, tempak pasarean Tumenggung Kanduruwan, Pangeran Lor, dan Pangeran Wetan yang terletak di Dusun Karang Sabu, Desa Karangduak, Kecamatan Kota Sumenep. (Mamira.ID/Ririp)

Di masa pemerintahan sang Tumenggung, negeri Sumenep bertambah aman dan tidak kurang satu apapun. Meski Tumenggung Kanduruan tergolong pendatang di negeri Sumenep, akan tetapi rakyat sangat setia dan mendukung roda pemerintahannya.

“Tumenggung Kanduruan menikah dengan putri Raden Tandaterung, dan dikaruniai dua orang putra, yakni Raden Banten alias Pangeran Lor dan Pangeran Wetan. Kedua pangeran ini juga menjadi raja atau penguasa di Sumenep,” terang Jakfar.

Baca Juga:  Kiai Faqih: Ulama Sufi Guru Bindara Saot

Setelah cukup lama memerintah Sumenep, sang Tumenggung pun menghembuskan nafas terakhirnya menghadap Allah SWT. Jasadnya dikebumikan di Asta Karang Sabu, Desa Karangduak. Asta ini kurang lebih 500 meter ke arah barat pusat Kota Sumenep. Di asta inilah bersemayam keluarga besar Tumenggung Kanduruan dan anak keturunannya.

Sebuah cungkup atau kubah bergaya kolonial menjadi tempat terakhir sang Tumenggung berdarah Majapahit. Kondisi Asta Karang Sabu masih terlihat lestari keaslian dan kesitusannya. Jirat dan nisannya masih terjaga keasliannya. Serta sebuah gapura megah tampak berdiri kokoh di depan asta beliau.

“Selain Asta Tumenggung Kanduruan, di kubah tersebut juga terdapat makam kedua putranya, yaitu Pangeran Banten alias Pangeran Lor dan Pangeran Wetan, yang juga menjadi raja di Sumenep setelah mangkatnya sang Tumenggung,” pungkas Jakfar

Baca Juga:  Menggali Misteri Di Balik Tapak Tilas Pangeran Mandaraga

Ditonton juga video terbaru Mamira.ID di youtube:

Mamira.ID