Dari Madura ke Tapal Kuda, Dakwah Kiai Mas Su’ud, dan Cita-cita Besar Sang Penerus Menusantara dan Mendunia

MAMIRA.ID Sebuah bangunan kayu sederhana masih berdiri kokoh di Desa Kayuputih, Situbondo, Jawa Timur. Langgar atau musala, begitu sebutan warga zaman sekarang menyebutnya. Namun siapa sangka, dua abad silam, tepatnya pada 1825, bangunan itu merupakan masjid utama sebuah pesantren yang didirikan Kiai Raden Mas Su’ud, ulama tauhid dan tokoh penyebaran Islam di wilayah Tapal Kuda. Masjid itu menjadi salah satu artefak langka Islam abad ke-19 di Situbondo.

Di tengah minimnya bangunan ibadah dari periode tersebut yang masih bertahan, konstruksi kayu masjid ini relatif utuh setelah kurang lebih 2 abad lamanya.

Beberapa ahli sejarah mencatat, Islamisasi Situbondo atau kawasan Tapal Kuda Jawa Timur memang menguat pada awal abad ke-19, ditandai dengan berdirinya pesantren-pesantren berbasis trah Madura dan Sumenep yang berafiliasi dengan ulama keraton dan ulama pengembara.

Baca Juga:  Mengenal yang “Ta’ Kenal Ka Jhudanagara”

“Masjid ini saksi hidup dakwah Eyang Kiai Raden Mas Su’ud. Pesantrennya memang tinggal cerita, tetapi masjidnya masih berdiri dan itu bukti sejarah,” ujar HRM Khalilur R Abdullah Sahlawiy alias Gus Lilur, salah satu penerus atau keturunan langsung Kiai Raden Mas Su’ud.

Berdasar catatan keluarga, Kiai Raden Mas Su’ud dikenal sebagai trah keempat Raden Azhar Wongsodirejo atau Penghulu Baganda Seda Bulangan, salah seorang tokoh kiai bangsawan asal Sumenep-Pamekasan. Nisan makamnya yang bercorak daerah asalnya hingga kini masih terawat dan diakui para pemerhati sejarah lokal sebagai penanda kuat jejaring ulama Madura di Jawa Timur bagian timur.

Menurut keterangan Gus Lilur, warisan sang leluhur tak berhenti pada bangunan fisik.

Baca Juga:  Jadi Anak Angkat Raja Cirebon, Pangeran dari Madura Ini Mendapat Warisan Pusaka Bertuah

“Keturunan Eyang Kiai Mas Su’ud sudah ribuan. Saya memilih tidak hidup di bawah bayang-bayang beliau, tapi membumikan mimpi yang lebih luas,” katanya.

Gus Lilur sendiri memperkenalkan konsep DABATUKA (Demi Allah, Bumi Aku Taklukkan untuk Kemanusiaan) dan BAKIRA (Bandar Kiai Nusantara). Ia mengaku memimpikan pembangunan sejuta masjid di berbagai negara, bahkan ribuan pesantren berskala global.

“Mendirikan satu pesantren di Situbondo itu mulia, tapi membangun masjid dan pesantren untuk umat di banyak negara jauh lebih menantang,” ujarnya. Ia menautkan mimpinya dengan refleksi sejarah ulama besar Nusantara.

Pegiat anti korupsi ini juga menyinggung tokoh besar bernama Kiai Sholeh Darat Semarang, guru pendiri NU dan Muhammadiyah, yang pesantrennya tak berlanjut secara institusional, tetapi ilmunya menjalar luas. “Jejak pemikiran lebih panjang dari sekadar bangunan,” ucapnya.

Baca Juga:  Kiai Muban: Keturunan Sunan Cendana yang Hijrah ke Ambunten

Gagasan besar itu, menurut Gus Lilur, ia sandarkan pada kekuatan ekonomi. Ia mengklaim memiliki basis kepemilikan lebih dari seribu tambang berbagai komoditas di Indonesia.

Data Kementerian ESDM sendiri mencatat sektor pertambangan masih menjadi salah satu penopang utama ekonomi nasional, membuka ruang filantropi berbasis sumber daya alam jika dikelola secara berkelanjutan.

Di tengah cerita rakyat tentang masjid kayu Situbondo yang diyakini sarat kisah spiritual, Gus Lilur memilih jalur rasional.

“Saya berdiri di atas kaki sendiri. Warisan Eyang adalah inspirasi, bukan batas,” tuturnya.

Peninggalan bersejarah berupa Langgar atau Masjid Kayuputih kini menjadi penanda sejarah Islam Situbondo, sekaligus titik berangkat mimpi besar seorang cicit ulama yang ingin membawa dakwah Nusantara melintasi batas negara.