Hikayat Ratu Pasuruan dari Bumi Arung Palakka

MAMIRA.ID, Pasuruan – Keraton atau Kadipaten Pasuruan secara kekeluargaan, penguasanya di abad-abad terakhir ternyata sangat erat hubungannya dengan keluarga Keraton Sumenep. Dalam catatan sejarah Sumenep maupun catatan dari kota yang menurut sumber Wikipedia ini berjuluk City of  Madinah atau Madinah van Java; salah satu putri Adipati Sumenep, Sultan Abdurrahman Pakunataningrat, ternyata merupakan Ratu Pasuruan atau isteri Adipati Pasuruan.

Istilah ratu dapat merujuk pada sosok perempuan. Secara tradisi, ratu merupakan gelar pemimpin kerajaan, yang tokohnya tersebut berjenis kelamin perempuan. Namun ada juga ratu yang disematkan sebagai gelar seorang garwa parameswari atau permaisuri raja, yakni isteri utama seorang raja.

Makna lainnya, ratu bisa dipakai dua jenis kelamin sekaligus, yang maknanya seperti di muka, yaitu gelar pemimpin kerajaan. Alasannya, karena ada istilah keraton yang berakar dari panggilan ratu atau rato, dalam bahasa Madura. Sebagaimana istilah kerajaan yang berakar pada panggilan raja, dan kedatun atau kedaton yang berakar pada datu.

Baca Juga:  Asta Tinggi Bagian III: Cungkup Bindara Saot

Nah, Ratu Pasuruan yang merupakan putri Sultan Sumenep ini mengacu pada sosok parameswari. Raden Ajeng Bone namanya. Beliau merupakan permaisuri Raden Adipati Ario Nitiadiningrat IV, adipati Pasuruan.

Lahir dari Putri Raja Bone

Lahir dengan nama Raden Ajeng Bone. Menurut kisah sesepuh Sumenep, Raden Ajeng Bone lahir di atas kapal dalam perjalanan Bone-Sumenep.

Raden Ajeng Bone memang memiliki darah Bone dari ibunya. Sang Ibu merupakan salah satu putri Raja Bone yang dinikahi oleh Sultan Abdurrahman Pakunataningrat, Adipati Sumenep di 1811-1854 Masehi.

Sultan Abdurrahman Pakunataningrat
Sultan Abdurrahman Pakunataningrat dan cungkup megah makamnya di Asta Tinggi Sumenep. (Mamira.ID)

Sultan Abdurrahman tercatat memiliki beberapa isteri. Jumlah seluruh anaknya, 33 orang. Raden Ajeng Bone tidak memiliki saudara syaqiq (seayah seibu). Beliau satu-satunya anak Sultan Sumenep dari Putri Bone.

Baca Juga:  Se Malembung dan Somor Tanda’, Dua Area Mistis di Desa Pragaan Laok

Kembali ke kisah kelahirannya, di suatu masa, Sumenep dan Bone terjadi perselisihan. Sehingga Sultan Abdurrrahman pun menyiapkan ekspedisi perang ke Bone. Namun sesampainya di sana, penguasa Bone dikisahkan takluk kepada Sumenep. Bahkan, Sultan Abdurrahman diambil sebagai menantunya. Kisah lainnya menyebut jika Sumenep pernah diminta bantuan Bone dalam masalah perang saudara di sana, dan berakhir dengan kemenangan di pihak Bone.

Sekian lama Sultan di Bone, beliau pun membawa sang isteri yang tengah hamil tua. Berlayar dengan kapal perang. Di tengah perjalanan, sang isteri menunjukkan gejala akan melahirkan.

“Namun tidak kunjung lahir. Hingga hampir berlabuh,” kata R. Fahrurrazi salah satu keluarga Sumenep.

Nah, kala itu Sultan Abdurrahman yang dikenal waskita mengatakan pada sang isteri, bahwa bayi dalam kandungannya tidak akan lahir sebelum dirinya bersin.

Baca Juga:  Kisah Raibnya “Kuda Terbang” di Kubah Sang Patih

“Tak lama kemudian, Sultan bersin, bersamaan dengan itu, sang bayi pun lahir dengan selamat,” cerita Fahrurrazi.

Bayi perempuan itu lantas diberi nama Raden Ajeng Bone, untuk menghormati keluarga kerajaan Bone.

Menurut kisah sesepuh Keraton Sumenep, Raden Ajeng Bone merupakan satu-satunya putri Sultan Abdurrahman yang wajahnya mirip dengan ayahnya itu.

Ratu Pasuruan

Raden Ajeng Bone dipersunting oleh Raden Adipati Ario Nitiadiningrat IV. Dari pernikahan tersebut lahir berapa orang anak yang kesemuanya laki-laki. Sejak saat itu beliau dikenal dengan sebutan Ratu Nitiadiningrat.

Hikayat Ratu Pasuruan dari Bumi Arung Palakka
Makam Raden Ajeng Bone (kiri) dan Adipati Nitiadiningrat di Pasuruan. (Foto/Mamira.ID)

Raden Ajeng Bone dikenal sebagai sosok yang cerdas, dan ahli diplomasi. Sosoknya juga dihormati oleh bangsa Kolonial. Mengingat pribadinya sebagai salah satu putri Sultan Sumenep yang dikenal disegani kawan maupun lawan.

Raden Ajeng Bone wafat di Pasuruan. Jenazahnya dimakamkan di sebelah barat Masjid Agung Pasuruan. Makamnya hingga kini ramai diziarahi banyak orang dari beberapa penjuru.