Festival Musik Tong-Tong dan Prosesi Arya Wiraraja Jadi Panggung Pemersatu Sumenep

MAMIRA.ID – Perayaan Hari Jadi Kabupaten Sumenep tahun ini tampil berbeda dan sarat makna. Di balik semaraknya alunan musik tradisional dan balutan busana khas sejarah, momentum hari jadi tidak sekadar dirayakan sebagai seremonial tahunan, melainkan ditransformasikan menjadi ruang kultural untuk merajut persatuan di tengah tantangan geografis wilayah daratan dan kepulauan.

​Hal tersebut mengemuka dalam rangkaian Prosesi Arya Wiraraja dan Festival Musik Tong-Tong yang masuk dalam kalender Karisma Event Nusantara (KEN) 2026, yang dipusatkan di depan Masjid Jamik Sumenep. Ribuan masyarakat dari berbagai latar belakang suku, budaya, hingga wilayah administratif yang terpisahkan oleh lautan tampak tumpah ruah melebur dalam satu ruang perayaan.

Baca Juga:  Mengenal yang “Ta’ Kenal Ka Jhudanagara”

​Bupati Sumenep, Achmad Fauzi Wongsojudo, melihat langsung bagaimana kebudayaan lokal memiliki daya magnet yang luar biasa untuk meruntuhkan sekat-sekat perbedaan geografis. Menurutnya, kondisi Sumenep yang terdiri dari gugusan pulau-pulau dan wilayah daratan yang luas sering kali menghadirkan tantangan tersendiri dalam pemerataan dan integrasi sosial. Namun, lewat seni dan tradisi, sekat-sekat itu mencair.

​”Perbedaan latar belakang, suku, budaya, hingga kondisi geografis antara daratan dan kepulauan bukanlah sebuah penghalang. Sebaliknya, hal itu harus menjadi kekuatan utama kita untuk mempererat persatuan. Keberagaman adalah kekayaan yang harus dirawat bersama,” ujar Bupati Achmad Fauzi di sela-sela kegiatan.

​Pemanfaatan event budaya seperti Festival Musik Tong-Tong dan Prosesi Arya Wiraraja dinilai sebagai strategi kebudayaan yang efektif. Tradisi tidak hanya berfungsi sebagai pelestarian warisan leluhur, tetapi juga bertransformasi menjadi ruang perjumpaan sosial (social space) bagi masyarakat Sumenep untuk memperkuat identitas kolektif mereka.

Baca Juga:  GERBANG TOLL PBNU: Gerakan Bareng Tolak LPJ PBNU

​Lebih lanjut, Bupati menegaskan bahwa kemajuan pembangunan Kabupaten Sumenep tidak bisa sepenuhnya dibebankan pada pundak pemerintah daerah semata. Dibutuhkan kolaborasi lintas sektor mulai dari masyarakat akar rumput, dunia usaha, tokoh agama, hingga kaum muda yang digerakkan oleh semangat gotong royong.

​”Pemerintah tidak bisa bekerja sendiri. Melalui semangat kebersamaan yang terpancar dari event budaya ini, kami berharap energi positif tersebut menjalar ke dalam partisipasi aktif masyarakat dalam mengawal pembangunan daerah yang berkelanjutan,” tambahnya.

​Melalui perpaduan antara napas sejarah kepemimpinan Arya Wiraraja dan denyut kreativitas modern dalam Festival Musik Tong-Tong KEN 2026, Hari Jadi Sumenep tahun ini berhasil membuktikan bahwa seni dan budaya lokal adalah perekat sosial paling tangguh untuk mewujudkan Sumenep yang unggul, mandiri, dan sejahtera.

Baca Juga:  Palotan Pendhang, Kuliner Khas Manding Sumenep

(Ida)