MAMIRA.ID – Barong Grup, atau Bandar Rokok Nusantara Global Grup menilai Industri tembakau Indonesia masih menyimpan ketimpangan struktural dengan sangat serius. Di tengah besarnya perputaran ekonomi sektor rokok nasional, kesejahteraan petani tembakau justru belum mengalami peningkatan secara signifikan.
Hal tersebut disampaikan Founder sekaligus Owner Barong Grup HRM Khalilur R. Abdullah Sahlawiy. Ia menekankan perlunya perubahan mendasar dalam struktur industri tembakau nasional, dengan menempatkan petani sebagai subjek utama, bukan sekedar pemasok bahan baku.
“Industri tembakau kita besar, tapi belum adil. Nilai tambah lebih banyak berhenti di pabrik, sementara petani tetap berada di posisi paling lemah,” ujar Gus Lilur, panggilan akrabnya.
Pengusaha sukses asal Situbondo tersebut menyampaikan, bahwa selama puluhan tahun terjadi jarak lebar antara sektor hulu (petani) dan hilir (pabrik rokok). Ia mengsahkan, petani tidak memiliki kendali terhadap harga jual tembakau, sementara produk akhirnya dijual dengan harga tinggi di pasar.
Kenyataan ini, lanjutnya, menciptakan ironi di berbagai daerah sentra tembakau seperti Madura, yang justru masih menghadapi permasalahan kesejahteraan.
“Yang menanam tetap miskin, yang mengolah menjadi kaya. Ini bukan kesalahan petani, tetapi kesalahan sistem,” terang Owner Rokok Bintang Sembilan (RBS) itu.
Menurutnya, tingginya harga rokok legal yang kini rata-rata menyentuh Rp20 ribu per bungkus dinilai semakin menjauhkan produk dari daya beli mayoritas konsumen, yang didominasi kalangan menengah ke bawah.
Kondisi tersebut memicu munculnya pasar rokok ilegal sebagai respon atas keterbukaan harga. Sebagai solusinya, Gus Lilur mendorong lahirnya ribuan pabrik rokok Skala UMKM di berbagai daerah penghasil tembakau di Indonesia.
Konsep atau gagasan tersebut diyakininya mampu memotong rantai distribusi, mendekatkan industri dengan petani, serta menciptakan harga yang lebih adil di kedua sisi—baik bagi produsen maupun konsumen.
“Ketika pabrik hadir dekat dengan ladang, petani bisa mendapatkan harga yang lebih layak. Di saat yang sama, rokok bisa dijual dengan harga lebih terjangkau,” jelasnya.
Model tersebut juga dinilai Gus Lilur mampu untuk beberapa hal, yakni:
– Meningkatkan daya tawar petani
– Menekan biaya distribusi
– Mendorong pemerataan ekonomi daerah
– Mengurangi ketergantungan pada industri besar
Kemudian, Gus Lilur menegaskan bahwa penguatan industri berbasis UMKM bukan sekadar strategi bisnis, melainkan langkah korektif terhadap ketimpangan ekonomi yang telah berlangsung lama.
Ia menyebut, jika model ini dijalankan secara masif, maka lanskap industri tembakau nasional akan berubah secara fundamental.
“Petani harus menjadi bagian dari kekuatan industri. Bukan lagi objek, tetapi subjek utama,” tegasnya.
Barong Grup, kata Gus Lilur, telah mulai menginisiasi langkah-langkah tersebut sebagai bagian dari visi besar membangun industri tembakau nasional yang mandiri dan berkeadilan.
Pihaknya juga berharap peran pemerintah untuk tidak hanya menjadi regulator, tetapi juga fasilitator dalam menciptakan ekosistem industri yang lebih merata.
“Industri tidak boleh hanya besar secara angka, tetapi juga harus adil dalam membagi manfaat,” tuturnya.
Dengan pendekatan berbasis petani dan penguatan UMKM, industri tembakau Indonesia diharapkan tidak hanya menjadi sektor ekonomi unggulan, tetapi juga menjadi pilar keadilan sosial bagi masyarakat.
Transformasi ini dinilai sebagai langkah penting untuk memastikan bahwa kekayaan sektor tembakau benar-benar kembali kepada mereka yang menjadi fondasinya para petani.
“Dabatuka, Bismillah, Salam Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia,” tutupnya.








