Site icon MAMIRA.ID

Soroti Dugaan Suap Muktamar ke-35 NU, Gus Lilur Singgung Sikap Gus Ipul

Sumber foto: HRM Khalilur R. Abdullah Sahlawiy

MAMIRA.ID – Sikap tenang Sekjen PBNU Saifullah Yusuf atau Gus Ipul di tengah mencuatnya dugaan praktik transaksi suara dalam Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) menjadi sorotan publik.

HRM Khalilur R. Abdullah Sahlawiy atau Gus Lilur, salah satu pengurus PWNU dari wilayah Sumatra mengaku heran melihat sikap tersebut. Menurutnya, sosok pimpinan itu seolah tidak menghadapi persoalan, meski tuduhan terkait dugaan penyuapan disebut mengarah kuat kepadanya.

Gus Lilur lantas menilai Gus Ipul diduga memiliki peran penting dalam skema transaksi suara yang dipersoalkan. Ia menyebut, dugaan tersebut berlangsung sejak pengumpulan jajaran PCNU dan PWNU menjelang Muktamar, penyerahan uang muka atau DP, hingga pelunasan yang disebut berlangsung di sebuah hotel.

Merespons keheranan jajaran PWNU Sumatra tersebut, pria asal Situbondo yang mengklaim dirinya sebagai cicit Sayyidina Ali sekaligus cicit Ken Arok itu menyampaikan analisisnya melalui dua perspektif, yakni sudut pandang keagamaan dan drama.

Dari perspektif keagamaan, Gus Lilur memberikan penilaian khusus terhadap langkah politik yang ditunjukkan. Sementara dari sisi drama, ia mengibaratkan sosok Sekjen PBNU tersebut seperti aktor teater profesional.

“Seorang aktor sejati mampu menghayati karakter yang diperankannya secara meyakinkan,” ucap Gus Lilur, Rabu (07/10/2026).

Dalam konteks tersebut, ia menilai narasi yang dibangun di ruang publik seolah menempatkan sosok tersebut sebagai penjaga moral dalam pelaksanaan Muktamar NU.

Lakon itu, lanjutnya, memberikan kesan bahwa pihak yang bersangkutan bersih dari praktik politik uang dalam forum tertinggi NU tersebut. Namun, berdasarkan dugaan yang disampaikannya, Gus Lilur menilai sosok tersebut justru berada pada posisi penting dalam penyusunan skenario maupun pelaksanaan transaksi politik di lapangan.

Gus Lilur juga menyoroti aspek psikologis di balik sikap mempertahankan narasi tersebut. Ia menilai terdapat kecenderungan untuk terus menyangkal tuduhan demi mempertahankan citra di hadapan publik.

Menurut dia, informasi mengenai dugaan kebocoran praktik jual beli suara dalam Muktamar NU kini telah menjadi pembicaraan di tingkat nasional.

Ia menduga sikap bertahan dengan narasi yang dianggap bersih tersebut tidak terlepas dari kekhawatiran terhadap pihak-pihak yang selama ini memberikan dukungan finansial.

Gus Lilur menilai kekhawatiran kehilangan dukungan tersebut dapat menjadi salah satu alasan mengapa penyangkalan terhadap dugaan yang berkembang terus disampaikan di ruang publik.

Ia pun menggunakan kiasan keras untuk menggambarkan situasi tersebut. Menurutnya, diperlukan langkah tegas untuk menghentikan apa yang ia nilai sebagai kepura-puraan di hadapan warga Nahdliyin maupun masyarakat luas.

Gus Lilur menegaskan, narasi mengenai proses Muktamar yang bersih dari praktik politik uang dinilainya semakin sulit dipertahankan. Menurutnya, rekam jejak serta dinamika yang terjadi selama perhelatan Muktamar ke-35 NU telah menjadi perhatian publik.

Kritik juga diarahkan terhadap kapasitas kepemimpinan di tingkat kementerian negara. Gus Lilur menilai keberadaan pejabat publik yang menurutnya tidak menyampaikan kejujuran secara terbuka dapat menjadi hambatan bagi upaya memperbaiki tata kelola pemerintahan dan kemajuan Republik Indonesia.

Ia turut menyinggung langkah klarifikasi ke lembaga antikorupsi seperti KPK. Menurut Gus Lilur, kehadiran seseorang di hadapan penegak hukum tidak serta-merta menghapus substansi dari tuduhan atau dugaan manipulasi yang tengah berkembang.

Pada akhirnya, Gus Lilur meminta seluruh pihak yang terlibat dalam polemik tersebut membuka persoalan secara terang dan menghentikan narasi yang dinilainya dapat membingungkan masyarakat.

Ia juga mendesak agar pejabat yang terbukti terlibat dalam persoalan tersebut bersedia mempertanggungjawabkan posisinya, termasuk mempertimbangkan pengunduran diri, demi menjaga keadilan sosial serta kepercayaan warga Nahdliyin dan masyarakat luas.

Terpisah, Sekretaris Jenderal Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) periode 2021-2026 Saifullah Yusuf alias Gus Ipul membantah tudingan yang menyebut ada aliran dana Rp480 miliar saat Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama di Jombang, Jawa Timur, beberapa waktu lalu.

Gus Ipul menegaskan tudingan tersebut merupakan fitnah. Gus Ipul yang juga Ketua Panitia Pelaksana Muktamar ke-35 NU itu mengatakan tudingan tersebut merupakan salah satu informasi yang beredar setelah pelaksanaan Muktamar NU, dan menurutnya tudingan itu dapat menyesatkan masyarakat apabila disampaikan tanpa bukti.

“Ya banyak itu mengembangkan ada risywah, ada intervensi, ada hal-hal yang enggak dilakukan, tapi dikabarkan. Itu sesungguhnya kan fitnah itu,” kata Gus Ipul di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, seperti dikutip dari Antara, Rabu (23/09) lalu.

Exit mobile version